Awalnya ia ragu—tidak ada latar belakang bisnis camilan, tidak ada peralatan, dan tidak ada akses pasar.
Namun Eli mencoba membuat beberapa kilogram emping. Ia menawarkan pada tetangga dan komunitas kecil. Responnya ternyata baik. Pesanan mulai datang sedikit demi sedikit.
Dari sinilah nama Koncone Ngemil lahir—nama yang sederhana, hangat, dan merepresentasikan produk camilan yang cocok untuk menemani aktivitas harian.
Produksi dilakukan secara manual sepenuhnya.
Eli membeli melinjo mentah dari pasar, menumbuk sendiri, menjemur sendiri, mengemas sendiri, dan mengantar pesanan sendiri. Saat mengurus pesanan, ia harus pula menggendong anaknya.
Bejubel tantangan ia hadapi, yakni produksi lambat, hanya beberapa kilogram per hari, kemudian kapasitas tenaga kerja terbatas, hanya dirinya dibantu suami.
Hingga permasalahan lainnya yang menjadi pekerjaan rumah untuk Eli, termasuk ihwal pengemasan.
Namun di balik semua kesulitan itu, ada tekad kuat: “Kalau orang lain bisa sukses dari dapur kecil, aku juga bisa.”
Perubahan signifikan dimulai ketika Eli mengenal program pelatihan di Rumah BUMN Solo mulai 2018 dengan program kemitraan BRI untuk pemberdayaan UMKM.
Dari situ, Eli mendapatkan pelatihan dasar yang menjadi pondasi bangunan kulinernya.
Eli mengikuti kelas keuangan dasar UMKM, cara menghitung HPP, manajemen produksi, branding & packaging.
Pelatihan-pelatihan ini membuatnya sadar bahwa bisnis bukan sekadar membuat produk, tetapi juga bagaimana mengelola biaya, margin, branding, customer retention, dan proses produksi.
Ia mulai melakukan pencatatan manual. Packaging ditingkatkan. Target pasar diperluas.
“Setelah belajar HPP, saya baru paham bahwa beberapa bulan pertama saya itu sebenarnya rugi,” kata Eli sambil tertawa kecil.
BRI membuka pintu lebih lebar ketika Koncone Ngemil lolos kurasi ke event besar, antara lain BRI UMKM EXPO(RT) dan BRILIANPRENEUR pada 2023.
Baca tanpa iklan