Selain cerita Eli di atas, kisah jatuh bangun pelaku UMKM juga dialami oleh Yani Mardiyanto.
Produk UMKM nya bertajuk Kain Lukis Nasrafa, didirikan pada 20 Januari 2012, tumbuh dari ruang kecil di Kampung Petoran, Jebres, menjadi brand kreatif yang karyanya melangkah hingga mancanegara.
Dengan modal minim, Yani memulai usaha dengan membeli kain polos dan cat sederhana.
Promosi dilakukan dari pintu ke pintu, menyebar brosur ke wisatawan di Pasar Klewer dan Pasar Gedhe, pada masa ketika media sosial belum menjadi alat pemasaran yang efektif.
Pelan-pelan, kerja keras itu membuka jalan. Nasrafa mulai dikenal setelah rutin mengikuti pameran UMKM yang digelar Pemkot Surakarta dan Pemprov Jawa Tengah.
Dari kurasi Dinas UMKM hingga berbagai pameran seni, Nasrafa menunjukkan bahwa produknya tidak sekadar barang konsumsi, melainkan karya yang perlu dilihat dan dirasakan langsung.
Inovasi terus tumbuh: dari selembar kain menjadi tas, pouch, syal, kemeja, payung, hingga topi. Motif bunga dan daun menjadi identitas kuat Nasrafa, disajikan melalui sapuan kuas yang menghadirkan kisah pada setiap produk.
Perlahan, perhatian dunia pun datang.
Tahun 2019, Nasrafa diundang ke pameran Manila Fame di Filipina.
Ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat mulai berjalan.
Tahun 2022, Nasrafa terpilih sebagai satu dari lima UMKM Indonesia yang tampil di Osaka Lifestyle Show, disusul Indonesia Fair 2023 di Namba Marui Department Store, Jepang. Motif sakura buatan perajin Solo bahkan menjadi primadona di negeri asalnya.
Namun perjalanan ini tidak selalu mulus. Konflik Rusia–Ukraina sempat menghentikan ekspor ke Eropa sejak akhir 2022.
Meski begitu, Yani tak menyerah. Ia kini mulai membidik pasar Turki melalui produk unggulan baru: tas pandan lukis, yang memadukan bahan alami dengan kreativitas khas Nasrafa.
Di balik seluruh capaian itu, stabilitas usaha juga terjaga berkat akses permodalan. Yani memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, yang pertama kali ia akses senilai Rp 20 juta, lalu meningkat menjadi Rp 100 juta.
Dana tersebut menjadi penyelamat saat pandemi Covid-19 memukul pelaku UMKM. Selain modal, BRI juga membuka peluang pameran dan penguatan brand, memperluas jejak Nasrafa di pasar kreatif nasional.
Kini di usia 57 tahun, Yani memandang Nasrafa sebagai lebih dari sekadar bisnis. Baginya, Nasrafa adalah warisan untuk generasi mendatang—ruang bagi anak muda Solo untuk berkarya, sekaligus medium untuk mengangkat seni lukis kain ke panggung dunia.
“Kami ingin terus berinovasi, menembus pasar baru, dan menjaga agar warisan budaya ini tetap lestari hingga anak cucu,” tegasnya.
Ekonom dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Mulyanto, memberikan pandangan mengenai perkembangaan UMKM dewasa ini.
Menurutnya, di era digitalisasi saat ini, pelaku ekonomi termasuk pelaku UMKM mencari cara menyuguhkan dagangan murah, berkualitas dan produksi terjangkau.
UMKM, lanjutnya, tertarik dengan tanpa adanya beban tambahan dan memperkecil biaya pengeluaran dengan menambah keuntungan.
"Kemudian peminat UMKM akan lebih banyak mencari produk dengan harga murah, nah produk tersebut akan banyak yang laku. Untuk bisa menjual produk murah, UMKM produsen perlu menekan biaya yang bisa ditekan. Termasuk transaksi menggunakan kartu kredit, debit, hingga QRIS," terang dia.
Bagi Mulyanto, perkembangan UMKM bisa dikatakan bagus berdampingan dengan merchant perbankan.
Catatan darinya, pelaku UMKM perlu mencari kesempatan untuk menekan biaya pengeluaran demi angka harga jual yang murah dan diminati pembeli.
"Harapannya dari situ nanti akan mendapat keuntungan yang lebih besar," ujar dia.
BRI Berdayakan UMKM
Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Adanya UMKM ini menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.
Dari perspektif tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tampil sebagai motor penggerak utama pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi membangun ekosistem lengkap yang mencakup akses modal, digitalisasi layanan, pelatihan, inkubasi, klaster usaha, hingga perluasan pasar.
BRI menegaskan bahwa UMKM adalah pilar ekonomi nasional, dan komitmen tersebut tercermin dari capaian kinerja terbarunya.
Pada pemaparan kinerja Triwulan III 2025, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa BRI berhasil membukukan laba Rp41,2 triliun, ditopang oleh stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan kredit sektor produktif.
Ia menegaskan bahwa prospek pertumbuhan ke depan semakin kuat karena perbaikan likuiditas, penurunan biaya dana, dan meningkatnya kebutuhan kredit masyarakat.
“Dengan kondisi makro perekonomian Indonesia dan kebijakan moneter yang positif, hal ini berdampak terhadap stabilitas industri perbankan nasional. BRI melihat prospek pertumbuhan kedepan akan semakin kuat, ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund), perbaikan likuiditas, serta peningkatan permintaan kredit di sektor produktif dan konsumtif,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.
Hery Gunardi juga menekankan bahwa BRI tetap fokus pada ekonomi kerakyatan dan terus memperkuat dukungannya terhadap program pemerintah, terutama melalui pembiayaan UMKM. Salah satu wujud terbesarnya adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp130,2 triliun, kepada 2,8 juta debitur atau 74,4 persen dari total alokasi nasional Rp175 triliun.
KUR menjadi tulang punggung pembiayaan produktif karena memberi modal murah bagi pelaku usaha mikro yang sebelumnya sulit mendapatkan akses kredit formal.
Selain pembiayaan, BRI juga menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM seperti pelatihan manajemen, literasi keuangan, digital, dan ekspor. Kemudian program klaster usaha dan desa binaan, pendampingan melalui Rumah BUMN, digitalisasi pemasaran lewat LinkUMKM, yang kini telah diikuti lebih dari 12,9 juta pelaku UMKM.
Dalam konteks inilah program inklusi keuangan dan UMKM BRI hadir, sejalan dengan semangat HUT ke-130 BRI, yakni “Bersama Rakyat Indonesia Maju.”
Menurut Hery Gunardi, program-program ini bukan hanya memberikan akses modal, tetapi juga membangun komunitas usaha yang kuat sehingga UMKM dapat tumbuh bersama dan naik kelas secara kolektif.
BRI juga menyadari masih ada tantangan besar seperti rendahnya literasi digital, standar kualitas ekspor, kapasitas produksi, dan konsistensi bahan baku. Namun dengan kombinasi pembiayaan, digitalisasi, dan pendampingan usaha, BRI melihat peluang besar untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM yang lebih merata dan berkelanjutan.
(*)
Baca tanpa iklan