TRIBUNNEWS.COM - Setiap bulan, jutaan rupiah menguap dari kantong Jaetun (40) hanya untuk membayar kontrakan, tanpa satu bata pun menjadi miliknya.
Bayangkan jika jutaan per bulan dikali per tahun, sampai 10 tahun lamanya.
Jaetun pura-pura lupa, lantas jika diingat-ingat bisa membuat dengkulnya lemas.
Setelah menikah pada 2009, Jaetun tidak langsung memiliki tempat tinggal sendiri.
Ia dan suaminya, Angga Eko Susilo (35), tinggal di rumah orang tua di wilayah Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Kondisi ekonomi mereka belum memungkinkan untuk menyewa apalagi membeli rumah.
Beberapa waktu kemudian, mereka mulai hidup mandiri dengan mengontrak.
Perpindahan pun tak terhindarkan. Dari Boyolali di daerah Mangu, lalu ke Kanoman selama sekitar tiga tahun, pindah lagi ke Dibal selama dua tahun.
Total lebih dari satu dekade mereka hidup berpindah-pindah.
Soal uang kontrakan yang dikeluarkan,
"Kalau per bulan jutaan, per tahun berapa, 10 tahun berapa?" tanya ibu satu anak ini sembari menggelengkan kepala.
Keinginan memiliki rumah sendiri sebenarnya sudah lama ada, tetapi selalu tertunda karena kondisi keuangan.
“Setelah ngontrak-ngontrak itu pengen punya rumah sendiri. Setiap hari pengen,” jelasnya ketika ditemui pada Kamis, 19 Februari 2026 siang.
Selama masa-masa itu, Jaetun dan suami mengandalkan usaha kecil yang dibangun dari nol.
Sejak awal menikah, mereka memproduksi tempe untuk dipasarkan ke Pasar Kartasura melalui sistem setoran.
Baca tanpa iklan