Jaetun awalnya membantu proses produksi, lalu ikut mengelola penjualan.
Sejak menikah ia dan suami tak berhenti menekuni kegiatan produksi tempe.
Beberapa tahun terakhir, mereka juga membuka warung lesehan di Kartasura yang beroperasi pada malam hari.
Namun sebagai pelaku usaha informal, penghasilan mereka tidak tetap.
Pemasukan bergantung pada jumlah pembeli setiap hari.
Sejak pandemi, kondisi usaha semakin berat.
“Saat Covid-19 itu pembeli turun berat, hampir 50 persen. Kalau lesehan itu drastis, 50 persen lah penghasilannya turun,” kenangnya.
Dalam situasi seperti itu, kebutuhan rumah sendiri terasa semakin mendesak.
Mereka memiliki seorang putri yang kini duduk di kelas 4 SD.
Tinggal di kontrakan berarti selalu ada kekhawatiran soal kenaikan sewa atau harus pindah lagi ketika masa kontrak habis.
Jaetun sebenarnya pernah mencoba mengajukan KPR pada 2019, tetapi tidak lolos persetujuan.
“Kalau kita wirausaha kan nggak punya slip gaji. Penghasilan naik turun. Dulu sempat takut karena merasa tidak dipercaya,” keluh wanita yang berzodiak Gemini itu.
Pengalaman itu membuatnya ragu. Ia merasa status sebagai pedagang kecil menjadi hambatan dalam mengakses pembiayaan formal.
Kesempatan kembali datang pada 2024 ketika ia memperoleh informasi tentang rumah subsidi dengan uang muka Rp6,6 juta dan cicilan tetap yang dinilai sesuai kemampuan.
Harapan itu bernama rumah subsidi di Perumahan Cengklik Permai, Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.
Baca tanpa iklan