Lokasinya sekitar 8,6 kilometer ke Pasar Kartasura dan 7 kilometer dari lapak lesehan Jaetun.
Artinya, calon rumah Jaetun lebih dekat dari rumah kontrakan terakhir yang berjarak sekitar 10 kilometer ke lapak tempak mereka mencari nafkah.
Rumah yang dipilihnya seharga Rp166 juta, dengan total dana yang dikeluarkan sekitar Rp15 juta termasuk biaya administrasi.
Cicilan bulanannya Rp1,2 juta dengan tenor 15 tahun.
Bak durian runtuh, proses pengajuan kali ini berjalan lebih lancar.
“Alhamdulillah gampang banget. Semua dibantu, prosesnya cepat. Cuma satu bulan langsung ACC,” ungkapnya dengan mata berbinar senang.
Pembayaran cicilan dilakukan melalui autodebet rekening tabungan di Bank Tabungan Negara (BTN), sehingga setiap bulan angsuran langsung terpotong otomatis.
Akad kredit dilakukan Juli 2024, dan Agustus mereka resmi menempati rumah tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka tinggal di rumah milik sendiri.
Merasa senang dan bangga, orang pertama yang ia kabari adalah kakaknya di Pekalongan.
“Senang banget. Alhamdulillah sudah punya rumah sendiri, nggak ngontrak lagi,” ucap dia.
“Langsung saya telepon kakak. Bilang, Alhamdulillah sudah punya rumah sendiri, monggo mampir! (silakan berkunjung).”
Rumah subsidi seluas sekitar 30 meter persegi itu kini mulai mereka kembangkan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.
“Kalau ada rezeki, nambah sedikit-sedikit, tembok belakang ditutup, depan teras juga. Yang penting sudah punya dulu,” jelasnya.
Bagi Jaetun, memiliki rumah bukan akhir perjuangan, melainkan bagian dari proses panjang yang dimulai dari tinggal menumpang, berpindah kontrakan, hingga bertahan dengan usaha kecil yang dijalankan konsisten selama bertahun-tahun.
Baca tanpa iklan