News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Jakob Oetama Meninggal Dunia

Jakob Oetama

Editor: Setya Krisna Sumarga
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jocob Oetama, menyerahkan buku kepada sangpenulis yaitu Menteri BUMN Dahlan Iskan, di acara peluncuran 3 buku, tulisannya berjudul, Dua Tangis dan Ribuan Tawa, Ganti Hati serta Tidak Ada yang Tidak Bisa, di Kompas Gramedia Fair, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Rabu (29/2/2012) (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

OLEH: DAHLAN ISKAN, Tokoh Pers Nasional

Menteri BUMN Dahlan Iskan, memeluk mesra istri tercinta Ny Nafsiah Sabri usai memberikan karangan bunga, di acara peluncuran 3 buku tulisannya yang berjudul Dua Tangis Ribuan Tawa, Ganti Hati dan Tidak Ada Yang Tidak Bisa, di Kompas Gramedia Fair, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Rabu (29/2/2012) "Suami saya ini (Red, Menteri BUMN Dahlan Iskan) baru pertama kali memberi karangan bunga kepada saya," kata Ny Dahlan Iskan Nafsiah Sabri. (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO) (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

YACOB Utama, Yakob Utama, Jacob Utama, Jakob Oetama. Yang terakhir itu ejaan yang benar. Saya pernah bertanya langsung kepada beliau tentang ejaan nama beliau itu –saking banyaknya versi di media.

Beliau juga menjelaskan secara khusus bahwa kata "Oetama" di situ harus dibaca: utomo.  Beliau kan orang Jawa Tengah. Lahir di desa sekitar candi Borobudur.

Bahwa ''utomo'' itu ditulis ''Oetama'' justru itulah yang benar –menurut grammar bahasa Jawa: bunyi "'o'' harus ditulis ''a'' manakala kata itu berubah bunyi ketika diberi akhiran ''ne''.

''Utomo'' ketika diberi akhiran ''ne'' bunyinya menjadi ''utamane''. Bukan ''utomone''.  Jangan disangka hanya bahasa Inggris yang grammar-nya bikin pusing. Cukup sampai di situ kita bicara bahasa Jawa.

Kita kan lagi membicarakan sosok hebat tokoh pers Indonesia yang meninggal Rabu (9/9/2020) siang: Jakob Oetama. Baca: Yakob utomo.

Saya tengah dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta (pakai mobil) ketika staf di Kompas TV menghubungi saya.

Kompas TV minta agar saya ikut memberi kesaksian tentang Pak Jakob. Saya diminta menyiapkan HP dan laptop untuk pengambilan suara dan gambar.

"Saya tidak membawa laptop," jawab saya. Lima menit kemudian saya baru tahu ada apa. Yakni setelah Joko ''Jagaters'' Intarto menghubungi saya: bahwa Pak Jakob meninggal dunia, Rabu, pukul 13.00, di RS Mitra Keluarga, Jakarta.

Tentu saya tidak terlalu kaget. Saya sudah lama mendengar beliau sakit. Usianya juga sudah 89 tahun –beberapa hari lagi. Saya langsung teringat semua kenangan lama.

Pak Jakob adalah orang yang sabar, kalem, tenang. Kalau berjalan tidak bergegas, kalau bicara  lirih, ritme kata-katanya lamban dan wajahnya lebih sering datar –tidak bisa terlalu kelihatan gembira atau terlalu kelihatan sedih.

Pak Jakob, karena itu, adalah simbol sosok orang Jawa yang sangat sempurna. Kepindahan beliau ke Jakarta tidak membuat beliau berubah menjadi ''lu gue''.

Tidak seperti saya: begitu pindah ke Surabaya langsung ikut menjadi bonek. Kesantunan Pak Jakob itu mungkin karena budaya desa di Jawa Tengah sangat merasuk ke jiwanya.

Mungkin juga karena roh Borobudur ikut mewarnainya. Mungkin sekali latar belakangnya sebagai guru masih terus terbawa.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini