News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Ekonomi Digital Butuh Dukungan Ekosistem Digital

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi

Oleh Moch S Hendrowijono *)

NILAI ekonomi digital Indonesia pada 2021, yang bila dihitung dari nilai GDP (gross domestic product) sebesar 70 miliar dollar AS, kontribusi terbesar ekonomi Indonesia, berasal dari transaksi e-commerce.

Menurut Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), hal ini sekaligus menunjukkan, terjadi perkembangan pesat pada industri aplikasi informatika yang digunakan masyarakat.

Aplikasi informatika menjadi katalisator akses masyarakat ke berbagai industri dan kini seluruh aspek kehidupan manusia hampir terkait dengan aplikasi informatika. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, pandemi Covid-19 merupakan faktor blessing in disguise yang turut meningkatkan pemakaian aplikasi.

Baca juga: Memahami Artificial Intelligence hingga Blockchain Melalui Buku Mengenal Ekonomi Digital

Jajak Pendapat Kompas pada Januari 2022 merekam sebanyak 67,8% responden pernah melakukan transaksi elektronik, meningkat dari sebelumnya. Data Asosiasi Penyelanggaran Jasa Internet Indonesia (APJII) untuk survei serupa melaporkan, 56,8% responden pernah berbelanja online.

Dari sisi pemerintah tumbuhnya e-commerce juga perlu dibarengi dengan peningkatan sektor lain. Umpamanya saja edutech, healthtech, fintech, juga sektor strategis seperti agritech.

Bila seluruh sektor saling maju, diperkirakan ekonomi digital Indonesia dalam empat tahun ke depan dapat menembus 146 miliar dollar AS. Belum lagi dari industri gaming yang punya potensi bagus.

Baca juga: Dukung Ekonomi Digital, Mitratel Bangun 1.500 Menara 4G di Desa Non 3T

Selama ini Indonesia hanya dikenal sebagai pasar, dengan jumlah konsumen terbesar ketiga di Asia dan ke 8 di dunia.

Kata Shieny Aprilia, COO perusahaan rintisan game digital Agate Studio, total nilai pasar game Indonesia di tahun 2020 mencapai 1,6 miliar dollar AS, masih di bawah China (43 miliar dolar AS) dan Korea Selatan (14,4 miliar dollar AS).

Tetapi nilai ekonomi digital dari berbagai sektor ternyata tidak selaju dengan tumbuh dan produktifnya pemain industri maupun kreator (termasuk perusahaan rintisan).

Jumlah game developer di Indonesia masih kurang dari 30 perusahaan sementara di Vietnam yang nilai pasarnya setengah Indonesia, punya 150 lebih pengembang game. Jangan bandingkan dengan China (lebih dari 25.000) atau Korea Selatan yang menyimpan 16.000 lebih start up game.

Baca juga: Startup Post. Ajak 160.000 UMKM Go Digital

Karena itu pula penetrasi game-game buatan start up lokal baru mencapai 0,4% dari total pasar Indonesia. “Sebenarnya, potensinya cukup tinggi karena developer Indonesia bisa lebih mengerti selera pemain Indonesia dan mengerti jalur distribusi maupun promosi game,” jelas Shieny.

Ekosistem digital

Menyikapi hal tersebut, kata Semuel, saat ini dibutuhkan kolaborasi erat antara penyedia aplikasi informatika dengan pemerintah, termasuk keterlibatan industri terkait.

Tetapi di sisi lain, menurutnya, diperlukan literasi digital yang membantu masyarakat dalam menavigasi ekosistem digital nasional yang sedang bertumbuh pesat.

Perusahaan seperti industri perbankan juga telah ambil bagian. Jiro Tominaga, Country Director Bank Pembangunan Asia untuk Indonesia, dalam diskusi Indonesia Development Talk, mengatakan, perusahaannya mulai bergerak aktif mendukung perusahaan pemula.

Institusi pendidikan seperti Universitas Indonesia juga mendirikan Direktorat Inovasi dan Science Techno Park. Direktorat ini mengembangkan ekosistem kewirausahaan.

Baca juga: Perbedaan TV Analog dan TV Digital, Berikut Cara Cek TV Sudah Digital atau Belum

Namun berbeda dengan bila ekosistem digital dibangun oleh operator telekomunikasi. Operator seluler memiliki aspek 360 yang justru membuka ruang bagi industri lain bersama membangun circle.

Ada peran industri telekomunikasi yang dapat dilakukan, kata Semuel, dan peran operator telco dalam membangun ekosistem digital nasional tidak serta merta dalam konteks infrastruktur saja.

“Bisa juga membantu membuat ruang digital yang bersih dan aman dengan terus mengedukasi para pelanggan dalam literasi digital,” ujarnya.

Operator telekomunikasi sebagai integrator, bentuk dari proses mengintegrasikan seluruh aspek ekonomi digital. Di antaranya membangun ekosistem digital itu sendiri.

Ekosistem digital adalah kolaborasi sumber daya teknologi informasi yang saling berhubungan yang dapat berfungsi sebagai satu kesatuan.

Ekosistem digital terdiri dari pemasok, pelanggan, mitra dagang, aplikasi, penyedia layanan data pihak ketiga, dan semua teknologi terkait.

Baca juga: Perkuat Sektor Digital, BPR Lestari Gandeng Fintech Komunal

Dalam peran melakukan integrasi, operator telekomunikasi memiliki potensi dan sumber daya serta aset. Mereka mempunyai infrastruktur, pelanggan melimpah, sistem maupun kemampuan melakukan interaksi antara pihak ketiga dengan pelanggan.

Tak kalah pentingnya SDM. “Operator telko memiliki tim business development yang mumpuni,” kata Semuel.

Ditambah dengan aspek inovasi, menurutnya lagi, terbuka peluang membangun ekosistem digital yang inklusif.
Perusahaan telekomunikasi seperti Telkomsel telah selangkah mendahului dan kolaborasi yang belakangan dilakukan bersama industri lain tampak pada layanannya.

Lewat aplikasi informatika umpamanya, ada aplikasi Telkomsel Redi berbasis fintech yang menggandeng seluruh bank BUMN, bank BUMD dan sejumlah bank swasta menawarkan layanan e-wallet untuk berbagai transaksi.

Di sektor edutech, dengan banyak pengusaha nasional menampilkan modul-modul pelatihan dan pendidikan bisnis digital. Strategi kolaboratif ini bisa dinikmati di aplikasi Kuncie.

Jadi inkubator

Atau contoh lain di sektor healthtech dikembangkan aplikasi Fita. Ada pula beberapa aplikasi korporasi untuk B2B berbasis Internet of Things (IoT) bersama industri lainnya.

Sementara barisan Telkomsel Games memberi tempat bagi game developer menyodorkan koleksi game-nya untuk di-delivery ke 172 juta pelanggannya. Masih di industri entertainment ada MAXStream yang menampilkan streaming film atau Langit Musik yang memberi wadah bagi artis dan kreator.

Kolaborasi ini membutuhkan pengelolaan yang lebih masif dan sistemik dalam kerangka ekosistem digital.
Harus diakui modal utama jaringan dan pengembangan teknologi masih amat penting.

“Ketersediaan koneksi yang andal dan merata di Indonesia sangat dibutuhkan,” ujar Shieny yang mayoritas game buatan start up-nya butuh jaringan memadai.

Sebut di antaranya Valthirian Arc: Hero School Story, Code Atma, dan Memories. Berkat jaringan telekomunikasi, diperoleh sambutan meriah di pasar lokal dan internasional.

Tetapi operator telko perlu mengubah strategi agar mampu mengintegrasikan lebih banyak hal.

“Operator telko tentu dapat melakukan shifting (dari penyedia jaringan ke penyedia aplikasi dan solusi). Selain memberikan nilai tambah pada pemakaian produk jaringan tertentu, juga dapat mendorong adopsi teknologi tertentu di masyarakat,” tutur Semuel.

Operator telko bisa membantu membuat inkubator atau akselerator startup untuk mengembangkan aplikasi informatika dengan solusi dan ide bisnis unik.

“Inisiatif mentoring semacam ini bisa menarget program dengan dampak sosial yang tinggi agar dapat meningkatkan inklusi transformasi digital kelompok tertentu,” kata Semuel.

Strategi membangun ekosistem digital tampaknya tengah dilakukan oleh Telkomsel. Lewat anak perusahaan bernama Telkomsel Ekosistem Digital, operator ini sedang mengembangkan konsep ekosistem yang sesuai.

Bagi start up seperti Agate Studio, dukungan operator adalah mutlak, dan terus mendukung pelaku industri video game melalui program pelatihan, inkubasi, dan pendanaan.

“Operator pun dapat berkontribusi meningkatkan pangsa pasar game Indonesia di pasar dalam negeri dan mewujudkan mimpi banyak anak muda Indonesia yang ingin berkarir di industri game,” ujar Shieny.

Ada PR, jaringan telekomunikasi belum merata ke berbagai daerah, khususnya kawasan 3T. Di satu sisi Telkomsel bersama Bakti Kominfo membangun jaringan 4G, di sisi lain mengintegrasikan seluruh lini membangun ekosistem digital, semua demi memajukan ekonomi digital.

Menurut Semuel, ekonomi digital juga harus dirasakan seluruh elemen masyarakat. “Inisiatif yang berkaitan dengan literasi digital terutama untuk masyarakat yang sulit mendapatkan akses ke ekosistem digital nasional perlu menjadi fokus secara terus menerus,” katanya. ***

*) Moch S Hendrowijono adalah pengamat telekomunikasi, mantan editor Kompas

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini