News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

AI, Nasib Kalangan Muda, dan Solusi Perlindungan Hukum

Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KECERDASAN BUATAN - Siswa kelas X dan XI SMAK Frateran melihat beberapa hasil karya mahasiswa yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) disela AI Viber Only with Institut STTS, Senin (10/6/2024). AI tidak bisa dihindari, tetapi bisa diatur. Pemerintah memiliki peran krusial dalam menciptakan ekosistem yang adil bagi generasi X, Y, Z, dan Alpha di era digital.

Oleh: Dr. Bakhrul Amal, S.H., M.Kn
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta

TRIBUNNEWS.COM - Seseorang tidak akan dapat melakukan perubahan sebelum terlebih dahulu memahami apa yang hendak diubah. 

Begitu kira-kira Zizek menanggapi narasi Marx tentang kegelisahan dari omon-omon para filsuf yang hanya disibukkan oleh khayalan untuk menafsirkan dunia. 

Keduanya sepakat bahwa yang lebih penting dari kegiatan menafsirkan, dari aktivitas kontemplasi, adalah kesungguhan untuk segera bertindak dan membuat perubahan itu sendiri.

Hari ini, kita menyaksikan bagaimana pemerintah terus menyesuaikan kebijakannya di tengah arus perubahan zaman. 

Berbagai regulasi diterbitkan untuk merespons dinamika teknologi yang semakin pesat, termasuk di dalamnya kecerdasan buatan (AI). 

Akan tetapi, pertanyaannya adalah apakah kebijakan yang telah dibuat itu sudah cukup untuk menjawab tantangan zaman dan melindungi generasi X, Y, Z, dan Alpha dari dampak negatif teknologi ini?

Hingga kini belum ada kebijakan yang secara spesifik membahas dampak AI terhadap generasi muda. 

Padahal perkembangan AI, yang dianggap mempermudah berbagai aspek kehidupan manusia, lambat laun telah menjadi ancaman serius jika tidak dapat diantisipasi dengan baik. 

AI tidak hanya mengubah cara kita dalam bekerja dan belajar, tetapi juga berpotensi menghilangkan kreativitas, daya kritis, bahkan mata pencaharian di berbagai sektor.

ChatGPT dan Masa Depan Kreativitas

Salah satu fenomena yang saat ini marak di kalangan generasi muda adalah penggunaan ChatGPT dan aplikasi sejenisnya. 

AI berbentuk aplikasi tanya jawab interaktif ini mampu memberikan solusi atas hampir semua pertanyaan, juga mampu membantu dalam mengerjakan tugas, hingga bisa dipergunakan sekadar menjadi teman berbincang di waktu senggang.

Namun, jika tidak diimbangi dengan regulasi yang tepat, penggunaan AI semacam ini bisa membahayakan. 

Generasi muda berisiko kehilangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, bahkan mengesampingkan etika akademik. 

Lebih dari itu, profesi yang bergantung pada intelektualitas manusia—seperti pengajar, penulis, dan peneliti—bisa terancam. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini