News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Moderasi Beragama dan Konstitusi

Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI MODERASI BERAGAMA - Grafis ilustrasi tentang Moderasi Beragama yang diambil dari canva.com, Jumat (25/4/2025). Moderasi beragama bukan sekadar slogan apalagi iklan. Moderasi beragama itu sejatinya berita utama. 

Di sisi lain, hukum di Indonesia juga tidak tinggal diam terhadap pelaku penodaan agama. Kasus Jozeph Paul Zhang menjadi contoh nyata. 

Jozeph Paul Zhang mendeklarasikan diri sebagai nabi ke-26 sambari menghina Nabi Muhammad SAW dalam sebuah kanal YouTube.

Oleh penegak hukum ia kemudian dijerat dengan pasal penodaan agama dan kini menjadi buronan. 

Kasus di atas adalah kasus dari sisi ekstrem kanan. Kasus tentang sebuah kebebasan tanpa etika yang justru memancing luka sosial. 

Dalam negara hukum, kebebasan itu diberikan bukan dipergunakan untuk mencela, tetapi untuk saling menjaga.

Kedua kasus di atas, dihukumnya perilaku ekstrem baik kanan maupun kiri, menunjukkan satu kesimpupan bahwa moderasi beragama bukanlah zona abu-abu. 

Moderasi beragama merupakan bagian dari kesadaran dan kepatuhan akan hukum nasional sebab ia menolak dua kutub ekstrem, yakni baik mereka yang menindas atas nama iman maupun mereka yang menodai agama atas nama kebebasan. 

Dalam bahasa Fritjof Capra, sistem sosial yang sehat adalah sistem yang menjaga keseimbangan dinamis, bukan yang membiarkan satu bagian menggerus yang lain.

Konstitusi dan hukum adalah teks untuk mewujudkan keseimbangan itu, sementara moderasi beragama adalah penopangnya.

Moderasi Beragama Merupakan Pilihan Eksistensial

Menjadi moderat, pada akhirnya juga, adalah pilihan eksistensial.

Menjadi moderat adalah menjadi Indonesia, menjadi bagian pelaksana amanat konstitusi yang menghendaki masyarakat untuk hidup bersama dalam ruang yang adil dan setara.

Gagasan moderasi beragama ini tentu artinya milik bersama. Bukan milik satu kelompok, satu agama, atau satu otoritas. 

Moderasi beragama adalah harta bersama, warisan budaya, dan prinsip hukum Indonesia.

Jika kita membiarkan gagasan moderasi beragama dikalahkan oleh opini-opini liar maka sesungguhnya kita sedang membiarkan Indonesia kehilangan jiwanya. 

Vaclav Havel pernah mengatakan, "Harapan bukanlah keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Harapan adalah keyakinan bahwa segala sesuatu itu punya makna, tak peduli bagaimana akhirnya." 

Moderasi beragama, dalam seluruh pengertian itu, adalah makna yang harus terus kita jaga. Ia adalah denyut nadi republik ini. Menjadi moderat bukan sekadar menjadi baik di mata manusia, tapi juga menjadi adil di hadapan sejarah. (*)

Dr. Bakhrul Amal, S.H., M.Kn Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta (ISTIMEWA/TRIBUNNEWS.COM)
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini