News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dokter Nyamuk ‘Memerdekakan’ Indonesia

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dokter Isra Wahid, peneliti yang dijuluki “dokter nyamuk”, merintis laboratorium nyamuk pertama di Indonesia di FK Unhas Makassar.

Penulis: Rusman Madjuleka

Rusman Madjulekka dikenal sebagai seorang penulis dan kolumnis yang aktif menulis opini dan artikel di berbagai media, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial, politik, dan tokoh publik di Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM - Tiga hari setelah hari Kemerdekaan RI, saya berkunjung ke Makassar. Diliputi rasa penasaran. Jika sebelumnya di ibukota Sulawesi Selatan ini ada julukan “dokter koboi”, kali ini ada “dokter nyamuk”. Yang memberitahu Prof Irawan Yusuf, seorang peneliti senior mantan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unhas yang kini aktif sebagai Presiden Mochtar Riady Institute for Nanotechnology UPH di Lippo Karawaci Tangsel.  

Untungnya saat berkunjung Rabu (20/8/2025) siang itu tak terasa panas terik menyengat. Sinar matahari tertutup awan. Langkah kaki membawaku ke pelataran FK Unhas di kampus Tamalanrea, arah utara kota Makassar. Melacak keberadaan “dokter nyamuk”, sebagaimana informasi terbatas yang saya miliki. 

Dan mungkin banyak yang belum tahu, hari itu pas bertepatan Hari Nyamuk Sedunia atau World Mosquito Days. Hari yang diperingati mengenang Sir Ronald Ross yang pertama kali menemukan hubungan antara nyamuk dan penyakit malaria pada 1897.Sir Ronald Ross ahli bedah tentara Inggris yang bekerja di India. Ketika itu, dia melakukan riset dan membuktikan bahwa nyamuk menularkan malaria dengan mengidentifikasi parasit malaria berpigmen pada nyamuk. Penemuan itu merevolusi pengetahuan tentang penyakit malaria dan cara-cara pencegahannya. Ronald Ross pun diganjar hadiah Nobel di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1902.

Dari gerbang gedung utama, saya belok kiri sampai di depan ruang departemen Parasitologi. Saat berkunjung Rabu (20/8/2025) siang itu tak ada petunjuk atau plang sebagai penanda keberadaan laboratorium  nyamuk. Karena bingung, lalu saya bertanya: 

“Ada pak dokter nyamuk”?         

“Ohh….beliau di lantai empat, lebih banyak di lab nyamuk,” jawab staf di ruangan itu.

Tiba di lantai 4, saya disambut pria rada gemuk, kulit coklat gelap dan rambut pendek ikal. Celana jeans dan baju kaos menunjukkan tampilan casual. Dalam hati saya bisa memahami sosok seorang peneliti sejati, yang tak suka formalitas dan  bersikap natural jauh dari kesan resmi.  

“Ini rumah kedua saya,” ujar lelaki bernama dokter Isra Wahid. Yang juga dikenal dengan julukan “dokter nyamuk”. Dia pula yang memimpin laboratorium riset khusus nyamuk yang ia dirikan sejak 2009.  

Agaknya Indonesia masih jauh dari kata “merdeka”. Setidaknya “merdeka” dari jajahan demam berdarah dengue dan malaria yang setiap saat mengintai dan mengancam jiwa manusia. 

“Meski jumlahnya makin menurun, tapi data menunjukkan di Papua malaria masih tinggi. Di hampir semua kota besar di Indonesia masih kerap terdengar kejadian luarbiasa demam berdarah,” ujar Isra.

Namun di era sekarang, kemerdekaan punya tantangan baru. Ia bukan hanya dimaknai fisik berupa mengangkat senjata, menjaga batas negara, tapi juga soal menjaga ruang pikir dan hati kita dari penjajahan informasi yang terdistorsi.  

Melalui laboratorium nyamuk inilah Isra terus bersuara menembus lorong-lorong kehidupan yang kerap abai. Ia bersama timnya konsisten menumbuhkan kesadaran masyarakat dan para stakeholder dengan asupan informasi update berbasis ilmiah. Ujungnya melahirkan perspektif baru terkait model, konsep, serta penanganan nyamuk dan penyakit tular nyamuk seperti malaria dan DBD yang lebih efektif.           

Cukup beralasan Isra Wahid menyandang julukan “dokter nyamuk”. Karena sejak masih di SMA Negeri 5 Makassar dirinya sudah berkutat dengan nyamuk. Waktu itu ia yang menyukai pelajaran Biologi kerap meneliti tentang perilaku salah satu serangga ini. Ia mengikuti lomba karya ilmiah remaja (KIR) yang diadakan Kemendikbud pada saat itu dan menjadi salahsatu pemenangnya dengan mendapatkan pena bersepuh emas 18 K.  

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini