"Ada tamu dari luar negeri hanya empat jam di Indonesia, mereka kembali lagi setelah datang ke sini," ungkap Isra yang juga aktif di Pusat Kajian Malaria (Center of Excelence for Malaria) pada Lembaga Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas.
Isra pun diminta keliling beberapa kota maupun kabupaten untuk menularkan hasil riset beserta model pencegahan nyamuk dan penyakit yang ditimbulkannya itu. Termasuk pendampingan dalam melatih kader dari dinas kesehatan setempat. Isra sadar bahwa penelitian tidak boleh berhenti di ruang laboratorium. Tapi harus masuk ke ruang-ruang hidup. Karena itu harus punya tim yang kuat yang bisa ”menjual” hasil penelitian itu. Ia merekrut sejumlah sarjana lintas disiplin ilmu, seperti dari FKM, biologi, matematika, bahkan antropologi.
“Dalam waktu dekat, ini staf kami yang berangkat ke daerah pelosok di Donggi Senoro Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah,” tutur Isra menunjuk wanita berjilbab yang lagi asyik depan komputer dekat ruang tamu kecil tempat kami berbincang.
“Apa nyamuk penyebab DBD bisa zero atau hilang sama sekali?” tanya saya.
Isra diam sejenak.Ia menghela nafas. “Saya kira tidak bisa,” ujarnya seraya mengangkat bahu. “Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya jangan sampai banyak dan membahayakan,” lanjutnya.
Yang harus dipahami masyarakat, menurutnya, keberadaan nyamuk dan penyakit DBD sebenarnya karena dipelihara oleh ulah manusia sendiri. Alasannya karena arus urbanisasi menciptakan permukiman padat penduduk dan juga disertai berbagai aktivitas penggunaan air dan artificial container yang jadi wadah nyamuk bertelur dan menetas secara masif. Akibatnya nyamuk ini selalu datang dan hidup dimana saja asal mengandung air.
Sampai saat ini untuk urusan nyamuk dan DBD ini, menurut saya, kelihatannya pemerintah sudah seperti lelah. Bermacam program sudah diupayakan, seperti kampanye “3M”, satu rumah satu jumantik, jumat bersih. Bahkan Kementerian Kesehatan menerapkan inovasi teknologi “Wolbachia” untuk menurunkan kasus penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Tapi tetap saja muncul kasus di sejumlah daerah, meski kuantitasnya menurun.
“Program program tersebut bagus. Cuma harus lebih menyentuh hal mendasar strategis dalam penanganan. Intervensi jangan hanya sebagai pemadam kebakaran tapi harus sebagai pencegah timbulnya api. Dan itu mesti dilakukan berkelanjutan dan konsisten,” kata Isra.
Simpelnya begini, lanjut Isra, kalau semua rumah kirim data secara periodik secara berjenjang maka minimal Puskesmas punya data dimana saja banyak jentik nyamuk. Atau yang lebih formal buat survei nyamuk, dimana masyarakat yang jadi petugas surveinya sebagai ”jumantik” (juru pemantau jentik) dan dilaporkan kepada kader di setiap daerah. Berdasarkan data survei itu, lalu pemerintah melakukan “intervensi” sebelum masuk fase datangnya kasus DBD.
“Insya Allah pas masuk musim penghujan jumlah nyamuknya bisa ditekan dan kasus DBD tidak melonjak tinggi,” ujarnya optimis.
Dari wajah Isra saya menangkap kesan jika ia ingin mewariskan semangat penelitiannya. Keinginan itu begitu kuat. Laboratorium nyamuk yang dirintisnya lebih dua dekade silam itu melibatkan banyak anak muda dan menjadi “kawah candradimuka” yang menautkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. (Rusman Madjulekka).
Baca tanpa iklan