News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dokter Nyamuk ‘Memerdekakan’ Indonesia

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dokter Isra Wahid, peneliti yang dijuluki “dokter nyamuk”, merintis laboratorium nyamuk pertama di Indonesia di FK Unhas Makassar.

Tamat SMA melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unhas, ia kembali bersentuhan dengan riset pengaruh obat nyamuk terhadap kesehatan jaringan paru-paru,yang dicobakannya pada hewan coba mencit di laboratorium. Penelitian inipun ia lakukan karena memenangkan pendanaan penelitian mahasiswa dari Kemenristek Dikti. 

Lulus dan jadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) tahun 1995-1998 yang bertugas di daerah sangat terpencil tempat pembuangan PNS nakal. Tapi Isra bukan dibuang, justru dialah yang meminta untuk ditempatkan di tempat paling terpencil di wilayah Sulawesi Selatan. Daerah tempat tugasnya itu pun ternyata daerah yang juga masih sering terjadi kasus malaria.  Setelah menyelasaikan masa bakti PTT, Isra diterima sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Unhas tahun 1998.

Suatu hari Isra dipanggil Dekan. Ia ditawari beasiswa pendidikan S3. Lagi-lagi studinya diarahkan mendalami soal nyamuk. Tanpa pikir panjang Isra setuju dan memanfaatan momentum dan peluang tersebut untuk terbang ke negeri matahari terbit, Jepang. Di sana, atas saran dari profesor Jepang, Motoyosyi Mogi,  Isra mengambil bidang Medical Entomologi dengan spesifikasi nyamuk sebagai vektor penular penyakit untuk riset  program doktornya. “Ini sudah menjadi jalan takdir saya, dari SMA sampai S3 selalu meneliti tentang nyamuk,” kataya.

Banyak doktor yang pulang dari studi di luar negeri mengalami frustasi. Karena tak bisa lagi melakukan riset dan terjebak dalam rutinitas di kampusnya. Merampungkan level pendidikan tertinggi dengan menyabet gelar Ph.D dari Saga Medical School Jepang, Isra sadar bahwa penelitiannya tidak boleh berhenti. Harus tetap lanjut melakukan riset tentang nyamuk dan penyakit yang disebabkannya, biar ilmunya berkembang. Jawabannya: harus punya laboratorium!

Persoalannya kemudian, dimana tempatnya? Isra keliling fakultasnya. Tak ada ruangan kosong. Semua terpakai. Ia lalu teringat ruangan di bawah atap di atas langit-langit ruang kelas lantai tiga, tempatnya dulu sering menyepi saat akan ujian.Di lantai keempat inilah ia menemukan ruangan luas yang hanya digunakan sebagai gudang untuk tempat menyimpan barang-barang bekas. Nampak kotor, kumuh dan banyak kelelewarnya. Ia kemudian menghadap Dekan.

“Bisakah saya gunakan ruangan gudang diatas lantai tiga  untuk laboratorium nyamuk?”

“Oh..iya silahkan.Saya izinkan.Cuma dananya dari mana, soalnya fakultas gak punya budget untuk itu?” kata Dekan.

“Kebetulan saya masih ada uang sisa grant penelitian prof, kalau diizinkan saya akan membuat lab entomologi sederhana di ruangan di bawah atap,” jelas Isra menjawab kekuatiran pimpinannya.

Keluar dari ruang dekan, raut wajah Isra sumringah. Senyumnya lebar memancarkan rona bahagia. Ia berhasil mengubah rooftop di salah satu gedung Fakultas Kedokteran Unhas menjadi laboratorium meski amat sederhana. Yang dulunya hanya kosong dan jadi tempat penyimpanan rongsokan barang disulap menjadi laboratorium dan kandang bagi ribuan nyamuk berbagai spesies. Dan Isra diberi kepercayaan yang hampir mutlak di situ.

Di puncak gedung berlantai empat itu, Isra beserta beberapa staf dan mahasiswanya meneliti pola hidup, penyebaran, hingga virus yang ditularkan oleh nyamuk. Mereka menyebutnya Insektarium, semacam lokalisasi nyamuk untuk keperluan eksperimen lengkap dengan objek binatang percobaan. Bahkan tak jarang mereka sendiri jadi relawan mendonorkan darahnya kepada nyamuk-nyamuk itu.

Isra mengaku mendesain laboratorium nyamuk itu sendiri,  memanfaatkan ruang-ruang kosong di antara tiang-tiang penyangga atap,tanpa pernah melihat kandang serupa. Karena bisa dibilang ini yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. ”Itulah mengapa bagian langit-langit lab ini miring ke arah ujung karena itu mengikuti kemiringan atap gedung,” jelasnya.

Di bagian dalam lab terdapat beberapa ruang kecil dengan fungsi yang berbeda-beda. “Ini ruang tempat pengembangbiakan spesies nyamuk,” tunjuk Isra.    

Dalam sepuluh tahun, laboratorium ini telah berkembang pesat atas dukungan dari para pejabat Dekan FK Unhas pada masanya masing-masing. Pada 2019 lab nyamuk itu telah diperluas untuk juga menampung Lab. Animal dan Lab Pemeriksaan Serologi dan Molekular dan diberi nama “Center for Zoonotic and Emerging Diseases”. 

Apalagi di Indonesia peneliti bidang ini sangat kurang. Bahkan di Makassar hanya Isra yang fokus meneliti nyamuk. Hampir setiap hari aktivitasnya di laboratorium atau berpetualang ke daerah-daerah endemik malaria atau demam berdarah (dengue). 

Keberadaan dan hasil dari laboratorium nyamuk ini mulai dikenal publik. Dikenal bukan penghasil sekedar tumpukan arsip kertas tapi hasil risetnya bisa diaplikasikan dan dirasakan dampaknya. Bahkan gaungnya terdengar sampai ke mancanegara. Karena itu, sejumlah mahasiswa dan ilmuan dari berbagai negara seperti Amerika, Jepang, hingga Inggris pernah mengunjungi laboratorium langka di kampus Unhas Makassar itu. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini