News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Bully dalam Pendidikan Dokter: Antara Kekerasan dan Pembentukan Mental

Editor: Suut Amdani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNERS - Dr. drg. Eka Erwansyah, MKes, SpOrt, Sub.DDTK(K), Dosen FKG Universitas Hasanuddin. Dokter Eka Erwansyah memberikan pendapatnya tentang bully dalam pendidikan dokter

Garis Tipis antara Mendidik dan Menindas

Persoalannya adalah bagaimana membedakan antara tekanan mendidik dan penindasan destruktif. Perbedaannya ada pada tujuan.

•    Jika ada tujuan pembelajaran, tekanan itu bisa diterima.

•    Jika hanya memuaskan ego senior, itu penindasan.

•    Jika diikuti evaluasi dan umpan balik, tekanan jadi mendidik.

•    Jika hanya menimbulkan rasa takut, itu perundungan.

Sayangnya, batas ini sering kabur. Institusi pendidikan kedokteran harus berani menegaskan garisnya:

kekerasan harus diberantas, tapi tekanan edukatif jangan dihapuskan.

Kalau semua bentuk tekanan dilarang atas nama “anti-bullying,” maka justru ada risiko melahirkan dokter yang lemah menghadapi dunia nyata.

Membentuk Baja, Bukan Membakar

Seorang dokter ibarat baja. Untuk kuat, baja harus ditempa dengan api.

Tetapi api yang terlalu besar bisa membakar habis.

Begitu pula pendidikan kedokteran: mahasiswa memang perlu tekanan, tapi yang proporsional dan bertujuan jelas.

Budaya bully negatif — fisik, verbal, finansial, atau sosial — harus ditinggalkan.

Tapi tekanan yang mendidik, yang mengajarkan ketangguhan, harus tetap dipertahankan.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini