Selain itu, sistem pendanaan riset kita masih sangat birokratis. Prosedur panjang, orientasi luaran yang kaku, serta penilaian berbasis kuantitatif (jumlah publikasi) membuat peneliti kehilangan ruang eksplorasi dan keberanian untuk berinovasi.
Sementara di negara maju, justru kreativitas dan keberanian mengambil risiko menjadi bagian penting dari kultur akademik.
Peringkat Indonesia di Global Innovation Index (GII)
Semakin kuat ekosistem penelitian di perguruan tinggi, semakin tinggi pula reputasi dan posisi globalnya. Kontribusi penelitian terhadap daya saing nasional dapat dilihat dari Global Innovation Index (GII) yang diterbitkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO).
Indeks ini mengevaluasi kemampuan suatu negara dalam menghasilkan dan memanfaatkan inovasi, dengan indikator seperti penciptaan pengetahuan, dampak pengetahuan, dan kinerja riset serta pengembangan.
Berdasarkan laporan Global Innovation Index (2024), Indonesia menempati peringkat ke-54 dari 133 negara. Namun, peringkat Indonesia masih rendah pada tiga pilar utama: Human Capital and Research (90), Knowledge and Technology Outputs (73), dan Creative Outputs (65).
Rendahnya skor pada aspek Human Capital and Research menunjukkan kapasitas pendidikan tinggi dan riset nasional masih jauh dari ideal. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pengeluaran untuk R&D yang hanya 0,28 persen dari PDB nasional, jauh di bawah rata-rata OECD yang lebih dari dua persen.
Selain itu, jumlah peneliti per satu juta penduduk di Indonesia masih di bawah rata-rata global, hanya sekitar 1.200 orang dibandingkan dengan Korea Selatan yang mencapai lebih dari 7.000.
Rendahnya kapasitas sumber daya manusia berdampak langsung pada kualitas publikasi ilmiah internasional. Berdasarkan data Scopus, Indonesia berada di posisi ke-45 secara global, tertinggal dari Malaysia (34) dan Singapura (29).
Dalam hal sitasi per dokumen, Indonesia mencatat rata-rata 5,6, sementara negara maju mencapai lebih dari 10. Hal ini berimplikasi pada rendahnya luaran teknologi dan paten nasional.
Peranan Penelitian dalam Pembangunan Nasional
Sejalan dengan visi pembangunan nasional, penelitian di perguruan tinggi berperan penting dalam mendukung RPJMN 2025–2029 yang menekankan percepatan inovasi, penguatan sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan.
Penelitian berdampak menjadi landasan ilmiah dalam mewujudkan delapan cita-cita bangsa Indonesia, terutama dalam peningkatan kualitas hidup, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian terapan yang memfokuskan pada isu lingkungan, sosial, dan ekonomi berkontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Penguatan penelitian dasar menjadi fondasi penting agar inovasi memiliki kesinambungan ilmiah dan dapat dikembangkan menjadi produk unggulan nasional yang berdaya saing global.
Baca tanpa iklan