AI tidak dalam kerumunan seperti Internet Platform. Dia tidak suka crowd, noise, keributan. Dia tenang, sistematis, logik, serius, terpola. AI ini seperti seorang profesor di ruang konferensi.
Kacamatanya tebal, mukanya terlihat tegang, mimik serius, dan kalimat-kalimat demi kalimat yang dia ucapkan berbobot akademis. Audiensnya pun “orang yang serius” atau orang yang mengharapkan sesuatu yang “berbobot”.
Dalam ruang konferensi, semua orang boleh bersuara. Tapi tidak semua suara didengar. Hanya yang berbobot. Hanya yang argumentasinya kuat. Hanya yang reputasinya diakui.
Incentive system AI bukan advertising, setidaknya saat ini. Business model AI adalah subscription. Kiblat dia adalah pelanggan (subscriber), bukan advertiser. KPI utama AI adalah menghasilkan informasi yang berbobot, terpercaya –bukan user engagement.
Dua elemen utama –informasi yang berbobot dan tidak suka noise– akan menjadi game changer ekosistem media. AI tidak mendorong media (sumber informasi) yang sebanyak-banyaknya agar harga iklan murah: AI mendorong media yang trusty. Dorongan ini akan mengubah landscape media secara signifikan.
AI memilih sumber informasi yang terpercaya karena setidaknya dua alasan. Satu, biaya. Makin banyak dan makin lama menjelajah, biaya produksinya akan makin mahal. Kedua, makin banyak mengecek sumber berita atau informasi, makin noise, makin bingung dia memilih mana yang bisa dipercaya.
Perubahan setidaknya mulai terlihat di dua level. Pertama, peran website berita. Jika di era Internet Platform, website berita adalah landing page (karena itu bisnis iklannya tumbuh), maka di era AI, website berita akan menjadi pemasok berita bagi mesin AI. Business model-nya adalah licensing.
Kedua, di area distribusi, AI (persisnya, generative AI berbentuk chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot) menjadi platform distribusi berita, seperti peran yang saat ini dimainkan Google Search, agregator, dan website berita.
Perubahan itu fundamental seperti perubahan dari koran/majalah ke website, dari TV tradisional ke YouTube atau TikTok, dari radio tradisional ke Spotify.
Dari sisi distribusi, kita menyaksikan perubahan signifikan peran website berita.
Sementara platform sosial media dan video, sepertinya, belum mengalami perubahan signifikan karena peran platform sosial media dan video memiliki fungsi lain selain mendistribusikan berita: mereka platform hiburan.
Nasib Umat Manusia
Tantangan terbesar dari sisi publik, dari sisi regulator. Bagaimana menempatkan AI agar fungsinya bisa dimanfaatkan optimal, pada saat yang sama, dampak negatifnya bisa dimitigasi.
Bayangkan AI adalah alat seperti pistol. Bukan sembarang pistol. Dia senjata api mematikan yang bisa memutuskan sendiri siapa sasarannya, kapan menembak, dengan cara apa, di mana. Pistol ini tidak diprogram tapi dilatih.
Regulasi kita mengatur secara ketat siapa yang boleh memegang pistol dan dipakai untuk apa. Bagaimana dengan pistol berbentuk AI?
AI bukan cuma pistol. Dia mesin yang memproses, menghasilkan, serta mendistribusikan informasi. Karena dia self improve dan menjadi sumber informasi, seperti media, AI memiliki kemampuan membentuk opini publik, membangun collective imagination.
Baca tanpa iklan