News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

AI dan Riuh

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BICARA PLATFORM AI - Dahlan Dahi, Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, mengulas tentang Internet Platform, AI System, dampaknya ke media massa dan publik serta apa yang mesti kita lakukan. /Foto.dok

Harap ingat: Pancasila, gotong royong, sopan santun, budaya, dan bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah collective imagination.

Kita membangunnya. Kita mempercayainya. Dia dibangun bertahun-tahun, membentuk persepsi setiap orang, menggerakkan, membentuk kita hari ini.

Karena perannya membangun collective imagination –yang kita kenal dengan pendapat publik (karena itu instrumen penting dalam negara demokrasi)-- pers diatur dengan sangat ketat.

Kode Etik Jurnalistik, misalnya, mengatur bagaimana mencari, mengolah, dan mendistribusikan berita. Ketika mencari berita, misalnya, wartawan harus memperkenalkan diri. Dia tidak boleh berlagak seperti intel. 

Jadi, wartawan tidak hanya dituntut mendistribusikan berita yang berguna untuk publik, tapi juga dituntut mencari berita dalam bingkai etik yang melindungi publik.

Berita yang didistribusikan, untuk menyebut satu contoh lagi, harus sudah benar, harus sudah cek dan ricek. 

AI, setidaknya saat ini, tidak demikian. Mulai dari proses mengumpulkan informasi (learning), memproses informasi (reasoning), sampai mendistribusikan informasi (dalam bentuk hasil prompting), AI bebas leluasa. 

Satu lagi. Pistol bernama AI ini belum sempurna. Dia masih sering halusinasi. Sering ngawur. Hal lain, dia masih sangat lemah di sisi perlindungan hak cipta, copyrights.

Sistem atau entitas yang begitu powerful, yang diakui belum sempurna, sudah bisa diakses publik. Bayangkan kalau entitas itu adalah “pistol cerdas”. Dia bisa membunuh seorang bayi tidak berdosa, tapi juga bisa melindungi penggunanya dari perampok.

Bayangkan kalau entitas cerdas itu, yang bisa mendistribusikan informasi yang masih mengandung elemen halusisasi –atau bahkan membawa sistem nilai yang berbahaya, seperti bias– bisa diakses semua orang.

Dia bisa membantu meningkatkan produktivitas manusia, tapi pada saat yang sama, dia bisa membangun collective imagination yang baru.

Kalau kita membiarkan demikian, maka kita menyerahkan nasib kita, nasib umat manusia, juga nasib NKRI, pada mahluk yang belum kita atur sama sekali.

Pada akhirnya, “kerumunan” dan “profesor” sedang membentuk dunia yang kita nikmati dan akan wariskan ke generasi berikutnya. Pilihan tersedia di depan kita: kita mengontrolnya atau membiarkannya mengontrol kita.***

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini