News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

‘Sayap Garuda’, Kritik Sosial atas Kasus Bullying di Sekolah

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FILM SAYAP GARUDA - Aktor lintas generasi bersama siswa tampil di film “Sayap Garuda”, kampanye anti-bullying demi sekolah aman.

Tarmizi Abka 

Sutradara 

Dikenal lewat karya-karyanya yang kerap mengangkat isu sosial, pendidikan, dan budaya.

Karya-Karya:

Kalam Kalam Langit (2016) – film religi yang tayang hingga Malaysia.

Kartu Pos Wini (2023) – film drama dengan nuansa novel.

Bisikan Gaib (2019) – film horor.

Senyum Merah Putih – film bertema nasionalisme.

Maraknya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah yang kian mengkhawatirkan mendorong untuk bersuara melalui karya layar lebar.

Keresahan tersebut ia tuangkan dalam film terbarunya berjudul “Sayap Garuda”, yang mengangkat isu bullying sebagai persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia.

Film ini diproduksi bekerja sama dengan Sekolah SUKMA di bawah bendera TRAZZ PICTURES, dengan Malang Raya dipilih sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

“Sayap Garuda” bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan medium edukasi dan refleksi sosial yang menyoroti dampak psikologis perundungan terhadap generasi muda.

Film ini lahir dari keprihatinan saya melihat semakin banyaknya kasus kekerasan di sekolah. Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar.

Untuk memperkuat pesan cerita, saya menggandeng sejumlah aktor nasional lintas generasi. Yama Carlos dan August Melasz dipercaya menghadirkan kedalaman emosional, sementara Zahwa Malabar serta pendatang baru Enrique Christian Raharja mewakili suara generasi muda yang menjadi korban sekaligus penyintas perundungan.

Melalui pendekatan dramatik yang realistis, film ini menggambarkan bagaimana bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mental jangka panjang.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini