News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Forensik Ponsel dan Penelusuran Kejahatan Kripto, Kenali Sisi Gelapnya

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KEJAHATAN KRIPTO - Kejahatan berbasis kripto seharusnya relatif mudah diungkap. Namun, pengalaman penegakan hukum menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Melalui forensik ponsel, penyidik dapat menemukan hubungan konkret antara alamat kripto di blockchain dengan individu tertentu.

Riwayat aplikasi, tangkapan layar, catatan teks, hingga percakapan pesan instan sering kali menyediakan konteks yang tidak dapat diperoleh dari blockchain itu sendiri. 

Bukti-bukti semacam ini berfungsi sebagai penghubung antara dunia pseudonim kripto dan identitas hukum di dunia nyata. Dalam banyak kasus, justru artefak sederhana inilah yang menjadi penentu arah penyidikan.

Sebuah tangkapan layar dompet, catatan frasa pemulihan yang tersimpan di aplikasi catatan, atau percakapan singkat yang membahas transaksi dapat menguatkan konstruksi pembuktian secara signifikan.

Tanpa investigasi off-chain yang memadai, kejahatan kripto berisiko sulit dibawa ke tahap pembuktian yang utuh.

Untuk mengelola volume data yang besar di perangkat mobile, aparat penegak hukum kini banyak mengandalkan perangkat lunak forensik dengan kemampuan otomatisasi.

Alat-alat ini dirancang untuk mengekstraksi dan mengelompokkan artefak digital secara cepat. Dalam konteks efisiensi, pendekatan ini tentu membantu, terutama ketika berhadapan dengan banyak barang bukti.

Namun, perkembangan aplikasi kripto berlangsung sangat dinamis. Struktur data berubah, dompet baru bermunculan, dan sebagian informasi penting disimpan dalam format yang tidak selalu dikenali sistem otomatis.

Sejumlah riset forensik menunjukkan bahwa otomatisasi efektif untuk pola data yang sudah dikenal, tetapi kurang adaptif terhadap variasi baru yang muncul di lapangan.

Di titik ini, ketergantungan penuh pada otomatisasi justru dapat menjadi kelemahan. Bukti krusial dalam kejahatan kripto sering kali tersembunyi di luar pola umum, membutuhkan pembacaan kontekstual dan analisis manual yang terarah.

Pendekatan yang terlalu mekanis berisiko melewatkan detail penting yang menentukan. Karena itu, semakin jelas bahwa penelusuran kejahatan kripto membutuhkan pendekatan hibrid.

Analisis blockchain tetap relevan untuk memetakan aliran dana, sementara forensik ponsel menjadi kunci untuk mengaitkan aktivitas tersebut dengan pelaku. Di sisi lain, otomatisasi forensik perlu dilengkapi dengan analisis manual yang kritis dan selektif.

Bagi Indonesia, temuan ini membawa implikasi kebijakan yang tidak kecil. Di satu sisi, negara mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi teknologi finansial.

Di sisi lain, penegakan hukum harus mampu mengikuti kompleksitas baru yang lahir dari teknologi tersebut. Fokus yang terlalu sempit pada blockchain berisiko mengabaikan sumber bukti yang lebih konkret dan relevan secara hukum.

Penguatan kapasitas forensik ponsel menjadi kebutuhan strategis. Bukan hanya dalam bentuk pembaruan alat, tetapi juga peningkatan pemahaman metodologis aparat terhadap keterbatasan dan potensi teknologi forensik.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini