Maraknya deepfake asusila menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan sosial. Forensik digital membantu membedakan yang asli dan yang palsu, sementara hukum memberi kerangka perlindungan.
Namun, krisis yang dihadapi sesungguhnya lebih mendasar. Ketika wajah dan suara dapat direkayasa tanpa batas, yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran visual, melainkan kepercayaan antarmanusia di ruang digital.
Tanpa kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama, teknologi yang menjanjikan kemudahan justru berisiko mengikis rasa aman dan martabat yang seharusnya dilindungi.
Baca tanpa iklan