News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Polemik Kepemilikan Greenland

Greenland dan Potensi Pecah Perang Amerop

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GREENLAND - Kemarahan Eropa memuncak, NATO terancam pecah akibat langkah sepihak Trump

Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P., 

Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017 

Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI 2024-2029

Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump telah menjelma sebagai predator global yang tak sungkan melanggar kedaulatan nasional negara lain.

Setelah mencaplok Venezuela dan mengobar konflik di Iran, AS berupaya untuk mengambil paksa Greenland yang menjadi bagian dari Denmark.

Sikap AS yang brutal tak hanya memancing resistensi dan kemarahan dari Denmark yang notabene merupakan sekutu AS di NATO, tapi juga mayoritas negara-negara Eropa.

Beberapa negara Eropa seperti Prancis, Belanda, Jerman, Swedia, dan Norwegia bahkan telah memobilisasi militernya ke Greenland untuk melakukan pengamanan.

Dunia terancam terjerumus ke dalam Perang Amerika versus Eropa (Perang Amerop) yang berpotensi menimbulkan guncangan hebat pada tatanan politik dan ekonomi global.

Kemarahan Eropa pada AS berpotensi besar untuk membuncah jika Greenland diduduki secara paksa, termasuk jika AS memilih opsi militer.

Sebelumnya, Eropa dibuat murka oleh sikap AS di bawah Donald Trump yang mengajukan proposal perdamaian antara Rusia dan Ukraina tanpa melibatkan negara-negara Eropa di dalamnya.

Sebagai sesama negara kawasan, negara-negara Eropa merupakan subjek paling terdampak dari perang Rusia dan Ukraina yang telah berlangsungselama tiga tahun.

Negara-negara Eropa terpaksa menguras cadangan energinya untuk memenuhi kebutuhan energi domestik yang selama ini tergantung pada pasokan dari Rusia.

Sikap Trump yang memediasi secara sepihak di antara kedua negara yang bertikai dianggap oleh negara-negara Eropa sebagai bentuk pengabaian terhadap eksistensi mereka selaku komponen kawasan dan sekutu militer AS di benua biru.

Brutal dan irasional

Sikap AS yang selama ini berlaku unilateralistik, koersif, serta cenderung melanggar hukum internasional telah menjadi pengetahuan bersama bagi masyarakat global.

Apa yang terjadi pada Venezuela maupun Iran secara tidak langsung di awal 2026 ini tidak terlalu mengejutkan mengingat AS pernah melakukan hal serupa terhadap Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini