Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan sebutan MBG telah berfungsi
sebagai "Injeksi Ekonomi" yang langsung menyentuh inti pertahanan pangan nasional yang berada di desa-desa di sesluruh Indonesia.
Kondisi ini menjadi sebuah keberanian untuk terus berinvestasi bagi sektor pertanian, untuk langkah manfaat jangka panjang berupa ekonomi berkelanjutan.
Dengan target adalah desa-desa tidak lagi menjadi sumber kemiskinan bagi kota, tetapi sebaliknya menjadi penghasil kemakmuran dalam bentuk pangan berkualitas dan bahan baku industri yang dampak ekonominya dapat diringkas dalam mekanisme utama, yaitu efek ganda perputaran uang (money multiplier).
Melalui simulasi ekonomi, setiap unit dana yang dialokasikan untuk MBG menciptakan perputaran
ekonomi yang sangat besar, terutama dengan kebutuhan jutaan porsi makanan setiap harinya, seperti yang dicontohkan dalam simulasi sederhana berikut ini. Bayangkan sebuah desa dengan populasi anak sekolah (sasaran MBG) sebanyak 1.000 siswa.
Maka, simulasi perputaran uang (money multiplier) yang akan terjadi adalah sebagai berikut ini.
Biaya satu porsi makan bergizi adalah Rp15.000, maka dalam satu hari sekolah, negara
mengucurkan dana sebesar: 1.000 porsi × Rp15.000 = Rp15.000.000 per hari, maka dalam satu bulan
(20 hari sekolah), total dana yang masuk ke desa adalah Rp.300.000.000, dengan perkiraan rincian
sekitar 60 persen per bulan dari total dana yang masuk, yaitu sebesar Rp.180.000.000, untuk pembelian
bahan baku dari UMKM, KopDes Merah Putih, dan petani berupa beras, sayur, telur/ayam, ikan, serta buah-buahan lokal.
Operasional dapur & masak sebesar (30 persen) per bulan dari total anggaran, yaitu Rp.90.000.000, dengan penerima manfaat adalah industri minyak goreng, susu, pedagang gas LPG,
biaya listrik, tagihan air bersih, pemilik dapur, serta gaji 40-50 tenaga kerja baru yang terdiri dari
perempuan muda, ibu-ibu rumah tangga, pemuda setempat.
Selain itu, kebutuhan logistik dan distribusi sebesar (10 persen) per bulan dari total penerimaan, yaitu sebesar Rp30.000.000, dengan penerima manfaat adalah industri otomotif, industri asuransi, perbankan, supir, pemuda, dan pedagang bahan bakar minyak.
Dengan demikian, jelas terlihat bahwa program makan bergizi tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki gizi demi menjamin generasi emas 2045 namun juga memberikan multiflayer efek ekonomi sampai kepada masyarakat yang paling rentan terhadap pekerjaan formal yaitu ibu-ibu rumah tangga dan petani yang selama ini bergantung pada bantuan sosial namun berubah menjadi pelaku ekonomi baru.
Stabiliator Harga Pangan Nasional
Saat tulisan ini dibuat data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) tanggal 28 Februari
2025 tentang jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah sebanyak 24.079 unit.
Maka dengan asumsi setiap dapur memperoleh Rp.300.000.000 maka jika dikalikan dengan total unit SPPG maka dana yang dikeluarkan oleh BGN untuk memenuhi kebutuhan selutruh dapur adalah sebesar “Tujuh triliun dua ratus dua puluh tiga miliar tujuh ratus juta”.
Dengan kucuran anggarn sebesar ini secara tidak langsung maka terjadi kepastian pasar berkelanjutan (captive market) ditingkat petani sebagai penyedia bahan baku turut memberikan kepastian harga, yang secara otomatis menstabilkan inflasi pangan di tingkat nasional dengan menciptakan pasar yang stabil dan terjadwal bagi komoditas lokal (beras, telur, sayur, ikan, ayam, buah dsb).
Dengan adanya permintaan yang konstan setiap hari oleh SPPG, fluktuasi harga akibat spekulasi pasar dapat diredam.
Petani memiliki harga dasar yang terjamin, sementara konsumen umum di pasar tidak lagi mengalami kelangkaan pasokan karena pola tanam petani sudah terencana mengikuti
kalender program MBG.
Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, unit pelayanan gizi di desa dan kota dapat membeli langsung dari kelompok tani atau Bumdes atau KopDes Merah Putih, membuat masyarakat desa dapat naik kelas sebagai pemain utama dalam pengadan bahan baku masyarakat pemenuhan gizi anak bangsa dan margin keuntungan tetap berada di tangan masyrakat desa sehingga ini menjadi stimulus untuk pemuda menjadi motor penggerak ekonomi baru dengan membangun peternakan ayam pedaging, ayam petelur, ikan yang menjawab tantangan lapangan pekerjaan bagi pemuda desa yang selama ini memilih untuk migrasi ke perkotaan untuk mencari pekerjaan.
Baca tanpa iklan