News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Program Makan Bergizi Gratis

Transformasi Ekonomi Perdesaan Melalui Program Makan Bergizi

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Profile Tribunners: Ananda Bahri Prayudha, SP. M.Si - Dosen Sosiologi Pedesaan Fakultas Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia  (UKRI)

 Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan sebutan MBG telah berfungsi
sebagai "Injeksi Ekonomi" yang langsung menyentuh inti pertahanan pangan nasional yang berada di  desa-desa di sesluruh Indonesia.

Kondisi ini menjadi sebuah keberanian untuk terus berinvestasi bagi  sektor pertanian, untuk langkah manfaat jangka panjang berupa ekonomi berkelanjutan.

Dengan target  adalah desa-desa tidak lagi menjadi sumber kemiskinan bagi kota, tetapi sebaliknya menjadi penghasil  kemakmuran dalam bentuk pangan berkualitas dan bahan baku industri yang dampak ekonominya  dapat diringkas dalam mekanisme utama, yaitu efek ganda perputaran uang (money multiplier).

Melalui simulasi ekonomi, setiap unit dana yang dialokasikan untuk MBG menciptakan perputaran
ekonomi yang sangat besar, terutama dengan kebutuhan jutaan porsi makanan setiap harinya, seperti  yang dicontohkan dalam simulasi sederhana berikut ini. Bayangkan sebuah desa dengan populasi anak  sekolah (sasaran MBG) sebanyak 1.000 siswa.

Maka, simulasi perputaran uang (money multiplier) yang akan terjadi adalah sebagai berikut ini.

Biaya satu porsi makan bergizi adalah Rp15.000, maka dalam satu hari sekolah, negara
mengucurkan dana sebesar: 1.000 porsi × Rp15.000 = Rp15.000.000 per hari, maka dalam satu bulan
(20 hari sekolah), total dana yang masuk ke desa adalah Rp.300.000.000, dengan perkiraan rincian
sekitar 60 persen per bulan dari total dana yang masuk, yaitu sebesar Rp.180.000.000, untuk pembelian
bahan baku dari UMKM, KopDes Merah Putih, dan petani berupa beras, sayur, telur/ayam, ikan, serta buah-buahan lokal.

Operasional dapur & masak sebesar (30 persen) per bulan dari total anggaran, yaitu Rp.90.000.000, dengan penerima manfaat adalah industri minyak goreng, susu, pedagang gas LPG,
biaya listrik, tagihan air bersih, pemilik dapur, serta gaji 40-50 tenaga kerja baru yang terdiri dari
perempuan muda, ibu-ibu rumah tangga, pemuda setempat.

 Selain itu, kebutuhan logistik dan distribusi sebesar (10 persen) per bulan dari total penerimaan, yaitu sebesar Rp30.000.000, dengan  penerima manfaat adalah industri otomotif, industri asuransi, perbankan, supir, pemuda, dan pedagang  bahan bakar minyak.

Dengan demikian, jelas terlihat bahwa program makan bergizi tidak hanya  bertujuan untuk memperbaiki gizi demi menjamin generasi emas 2045 namun juga memberikan  multiflayer efek ekonomi sampai kepada masyarakat yang paling rentan terhadap pekerjaan formal  yaitu ibu-ibu rumah tangga dan petani yang selama ini bergantung pada bantuan sosial namun berubah  menjadi pelaku ekonomi baru.

Stabiliator Harga Pangan Nasional

Saat tulisan ini dibuat data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) tanggal 28 Februari
2025 tentang jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah sebanyak 24.079 unit.

Maka dengan asumsi setiap dapur memperoleh Rp.300.000.000 maka jika dikalikan dengan total unit SPPG  maka dana yang dikeluarkan oleh BGN untuk memenuhi kebutuhan selutruh dapur adalah sebesar “Tujuh triliun dua ratus dua puluh tiga miliar tujuh ratus juta”.

Dengan kucuran anggarn sebesar  ini secara tidak langsung maka terjadi kepastian pasar berkelanjutan (captive market) ditingkat petani sebagai penyedia bahan baku turut memberikan kepastian harga, yang secara otomatis menstabilkan  inflasi pangan di tingkat nasional dengan menciptakan pasar yang stabil dan terjadwal bagi komoditas  lokal (beras, telur, sayur, ikan, ayam, buah dsb).

Dengan adanya permintaan yang konstan setiap hari oleh SPPG, fluktuasi harga akibat spekulasi pasar dapat diredam.

Petani memiliki harga dasar yang terjamin, sementara konsumen umum di pasar tidak lagi mengalami kelangkaan pasokan karena pola tanam petani sudah terencana mengikuti
kalender program MBG.

Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, unit pelayanan gizi di desa  dan kota dapat membeli langsung dari kelompok tani atau Bumdes atau KopDes Merah Putih,  membuat masyarakat desa dapat naik kelas sebagai pemain utama dalam pengadan bahan baku  masyarakat pemenuhan gizi anak bangsa dan margin keuntungan tetap berada di tangan masyrakat  desa sehingga ini menjadi stimulus untuk pemuda menjadi motor penggerak ekonomi baru dengan  membangun peternakan ayam pedaging, ayam petelur, ikan yang menjawab tantangan lapangan  pekerjaan bagi pemuda desa yang selama ini memilih untuk migrasi ke perkotaan untuk mencari  pekerjaan.

Munculnya Agripperner Jakan Swaseambada Pangan Nasional

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini