Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menemukan bahwa terjadi tren pasca pandemi yaitu
keinginan masyarakat untuk mencari penghidupan diwilayah asal dengan data profil migran hasil dari survei sosial ekonomi nasional yang dirilis oleh BPS volume tujuh tahun 2025 menyebutkan bahwa setelah lonjakan migrasi risen selama pandemi (2019–2021) yang diduga karena migran kembali, data menunjukan tren penurunan persentase migran risen dari 2022-2024.
Penurunan ini kemungkinan didorong oleh perbaikan kondisi ekonomi dan kesempatan kerja di daerah asal, sehingga mengurangi dorongan untuk berpindah.
Sementara itu, penduduk yang berstatus migran risen pada tahun 2024 tercatat kurang dari satu persen, atau tepatnya 0,9 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap seratus penduduk, terdapat satu penduduk yang bermigrasi dari provinsi lain selama periode lima tahun
sebelum pendataan. Jika dibandingkan dengan persentase migran risen periode 2022 dan 2023 yang masing-masing sebesar 1,3 persen dan 1,0 persen, migran risen di tahun 2024 terus mengalami tren penurunan.
Data sensus pertanian menunjukkan bahwa terjadi penurunan minat anak muda untuk melakukan usaha disektor pertanian, tercatat menurut data BPS melaului sensus pertanian tahun 2013 sampai dengan 2023 telah terjadi penurunan minat generasi muda dengan rentan usia 25-34 tahun turun dari 11,97% menjadi 10,24 % pada tahun 2023 dalam melakukan usaha disektor pertanian.
Sehingga dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan semakin menambah peluang kerja yang ada di desa baik sebagai pekerja langsung di berbagai satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau sebagai enterpreunership baru disektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan SPPG yang tersebar diseluruh Indonesia menjadi stimulus agar Gen Z dan Milenials dapat kembali membangun desa menjadi Agriprener, Pertanian modern (2020-2025) telah melahirkan lapangan kerja yang tidak pernah ada 10 tahun lalu seperti, Spesialis drone untuk pemupukan dan sensor tanah berbasis IoT (Internet of things).
Demi menjawab distrupsi perubahan zaman tersebut terhadap penurunan minat generasi muda
pada sektor pertanian dan mengejar target swasembada pangan untuk pemenuhan kebutuhan nasional yang SPPG termasuk didalamnya guna memenuhi pemenuhan gizi anak-anak generasi penerus bangsa serta menekan angka urbanisasi, maka Kementerian Pertanian membentuk program Brigade pangan.
Dimana kelompok anak muda didesa mendapat bantuan modal hingga dua milliar rupiah untuk dapat membangun pertanian modern dengan lahan garapan sebesar 200 Ha bagi setiap kelompok menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) dan AI agar dapat mempercepat Swasembada Pangan, regenerasi petani serta menjamin pemenuhan kebutuhan SPPG diseluruh Indonesia, yang semuanya merupakan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Kemandirian ekonomi desa yang kokoh menciptakan benteng pertahanan pangan. Sejarah mencatat bahwa negara yang memiliki ketergantungan rendah pada impor pangan dan logistik global memiliki tingkat inflasi yang lebih rendah saat terjadi krisis geopolitik.
Petani sebagai aktor utama dalam MBG memastikan bahwa "Kedaulatan Pangan" bukan lagi slogan politik, melainkan kenyataan ekonomi di mana kebutuhan dasar bangsa dipenuhi oleh tanahnya sendiri, oleh rakyatnya sendiri, untuk masa depan generasinya sendiri.
Sebagai kesimpulan, integrasi antara peningkatan kesejahteraan petani, penciptaan lapangan kerja baru, dan program Makan Bergizi adalah kunci transformasi Indonesia.
Data 2020-2025 menunjukkan bahwa investasi pada petani adalah investasi dengan imbal hasil (ROI) tertinggi bagi kemandirian bangsa. Kemandirian ekonomi desa bukan lagi impian, melainkan realitas yang sedang dibangun melalui piring-piring makan bergizi anak sekolah dan kenaikan Nilai Tukar Petani yang berkelanjutan.
Baca tanpa iklan