Realitanya, keberadaan kita di sana justru seringkali hanya menjadi stempel inklusivitas bagi forum internasional tersebut, tanpa memberikan tekanan berarti bagi kemerdekaan Palestina.
Langkah Spanyol yang secara efektif "mengusir" jalur komunikasi dengan Israel seharusnya menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan di Jakarta. Jika diplomasi Indonesia hanya berhenti pada kecaman tanpa keberanian untuk meninjau ulang partisipasi kita di forum-forum yang mendegradasi prinsip konstitusional, maka dukungan kita terhadap Palestina akan tetap menjadi komoditas politik belaka.
Kita perlu belajar dari keberanian moral Spanyol bahwa diplomasi yang bermartabat memerlukan keberanian untuk meninggalkan meja ketika nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak lagi dihargai. Indonesia harus berhenti menjadi peserta pasif yang pandai bersilat lidah di panggung internasional, namun tumpul dalam melakukan aksi diplomatik yang memiliki konsekuensi nyata.
Baca tanpa iklan