News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Ketika Pengabdian Berakhir di Ruang Tahanan

Editor: Dodi Esvandi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sigit Priwibowo, Praktisi industri keuangan

Saat dipercaya memimpin Indofarma pada 2019, kondisi perusahaan itu sekarat. Selama tiga tahun berturut, Indofarma mencatat kerugian.

Mas Arief lalu melakukan restrukturisasi besar pada utang perbankan dan memperbaiki strategi bisnis perusahaan. 

Hasilnya tahun itu juga Indofarma berhasil membukukan laba! Ia dipuji karena berhasil membalikkan keadaan sebuah BUMN yang hampir kehilangan napas.

Namun hanya hitungan bulan Covid19 menerjang. Perusahaan pelat merah yang baru siuman itu dipaksa bekerja keras di tengah kondisi yang rawan. Ini belum ditambah sirkus politik yang susah ditebak.

Hasilnya, perjalanan Kakak kami berbelok tajam. Dari seorang CEO yang dihargai karena memperbaiki perusahaan negara, ia berubah menjadi terdakwa dalam perkara korupsi. Sejak September 2024, Mas Arief harus meringkuk di ruang tahanan.

Dia menyampaikan kesedihannya yang sangat mendalam karena sebagai anak tertua tidak bisa mendampingi ibu kami di hari hari terakhir sebelum ibu kami meninggal, bahkan sampai tidak bisa ikut memakamkan ibunda.

Ia juga menulis tentang Istri dan  anak-anaknya, menulis tentang kehidupan yang tiba-tiba berhenti.  . 

Mas Arief juga menulis satu kalimat yang terus bergema dalam perkara ini:  Ia tidak pernah menerima satu rupiah pun dari kerugian negara yang dituduhkan kepadanya. Sementara yang menerima aliran dana justru tak tersentuh hingga kini.

Pada titik ini, kisah Arief Pramuhanto bukan lagi sekadar perkara hukum. Perkara yang membelenggunya itu menjadi cermin tentang bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang pernah bekerja penuh pengabdian untuknya. 

Namun Ramadan mengajarkan hal penting. Tentang harapan yang masih tersisa bahwa suatu hari nanti, keadilan akan datang. Bukan sebagai belas kasihan. Tetapi sebagai hak warga negara yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto.

/////////

Penulis: Sigit Priwibowo
Praktisi industri keuangan

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini