News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Ketika Pengabdian Berakhir di Ruang Tahanan

Editor: Dodi Esvandi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sigit Priwibowo, Praktisi industri keuangan

Idul Fitri kembali datang. Namun sudah dua Ramadan berlalu tanpa Arief Pramuhanto, kakak kami.

Pekan ini saya membaca surat kakak kami dari Salemba untuk keluarganya. Mereka terpaksa menjalani dua Ramadan tanpa ayahnya. 

Bangsa Indonesia mungkin belum lupa saat Ramadan di masa Covid yang penuh ketidakpastian, ada Arief sebagai Direktur Utama (Dirut) Indofarma Tbk periode 2019–2023 yang bekerja keras dalam diam memastikan negara ini tak kehabisan obat dan alat kesehatan. 

Dalam masa paling gelap dalam sejarah kesehatan modern, pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 mulai mencengkam.

Rumah sakit penuh. Masker menghilang dari pasar. Obat belum ada. Vaksin bahkan masih sebatas harapan. Banyak orang memilih berdiam di rumah.

Mas Arief, biasa saya memanggilnya  justru melakukan sebaliknya. Mas Arief sebagai Direktur Utama PT Indofarma Tbk  mendapat penugasan dari Menteri BUMN untuk membantu penanganan pandemi, ia bekerja hampir tanpa jeda.

Saya sebagai adiknya menjadi saksi bagaimana Mas Arief, sering tidak bekerja dari rumah.

Ia keluar masuk rumah sakit, rapat dengan tenaga kesehatan, dan memastikan obat, alat kesehatan, serta kebutuhan medis tersedia bagi masyarakat.

Dia pernah menuturkan apa yang ia lihat pada masa itu: lorong-lorong rumah sakit dipenuhi pasien, bahkan ada yang meninggal sebelum sempat ditangani. Situasi darurat itu menuntut satu hal: keputusan cepat.

Indofarma  mendapat penugasan untuk memastikan ketersediaan alat kesehatan, obat Covid, dan vaksin Covid bagi fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Masker menjadi salah satu kebutuhan paling kritis.

Pada awal pandemi, harga masker di pasar global melonjak tajam. Banyak negara bahkan saling berebut pasokan.

Indofarma lalu mengimpor bahan baku masker dan memproduksi masker medis. 

Keputusan itu logis pada saat itu. Tanpa masker, virus menyebar tanpa kendali.

Harga masker jadi maupun bahan bakunya begitu tinggi. Namun pandemi juga mengajarkan satu hal: keadaan bisa berubah sangat cepat.

Saat pemerintah membuka keran impor masker melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), pasar mendadak dibanjiri masker murah.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini