News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Jendela-jendela yang Kita Biarkan Retak

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto ilustrasi. Foto ini menggambarkan suasana mudik lebaran.

Ada satu kesalahan yang pelan-pelan menjadi kebiasaan kita sebagai bangsa: kita terlalu sering datang terlambat. Kita sibuk memadamkan api, tetapi lupa bertanya siapa yang menumpuk ranting kering sejak awal.

Kita berdebat panjang tentang kejahatan, kekerasan, intoleransi, korupsi—tetapi jarang menoleh ke tempat pertama semua itu dilahirkan: rumah.

Dalam kerangka Broken Windows Theory yang diperkenalkan oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling, peradaban tidak runtuh karena satu ledakan besar. Ia retak dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Dari jendela yang pecah, yang tidak pernah diperbaiki.

Dan di Indonesia hari ini, jendela-jendela itu bukan hanya kaca di tembok kota. Ia adalah rumah—dalam segala maknanya.

Rumah yang Kehilangan Arah

Rumah tangga, yang dahulu menjadi sekolah pertama nilai dan batas, kini sering kehilangan suara. Orang tua sibuk bekerja, anak-anak dibesarkan oleh layar. Bukan lagi percakapan yang membentuk akhlak, tetapi algoritma. Bukan lagi teladan yang menuntun, tetapi tren yang membentuk.

Di titik ini, “jendela pecah” pertama muncul:
ketika hal kecil seperti kejujuran, disiplin, dan empati tidak lagi diajarkan secara konsisten.

Rumah adat—dalam arti nilai, tradisi, dan martabat kolektif—pelan-pelan berubah menjadi simbol tanpa ruh. Kita merayakan identitas, tetapi tidak lagi menghidupi maknanya. Upacara tetap ada, tetapi etika yang dikandungnya menguap.

Rumah sekolah pun menghadapi dilema. Ia masih berdiri sebagai institusi, tetapi sering kehilangan jiwa sebagai tempat pembentukan karakter.

Nilai akademik menjadi tujuan, sementara nilai kemanusiaan menjadi pelengkap. Kita mencetak lulusan, tetapi tidak selalu membentuk manusia.

Rumah agama—yang seharusnya menjadi jangkar moral—kadang berhenti pada ritual. Ibadah ramai, tetapi keadilan sosial sepi.

Simbol-simbol ketaatan tumbuh, tetapi buahnya tidak selalu tampak dalam kejujuran, kepedulian, dan integritas.

Dan rumah negara—yang seharusnya menjadi penjamin arah dan keseimbangan—sering kali datang ketika semuanya sudah terlambat. Kebijakan lahir sebagai reaksi, bukan sebagai pencegahan. Negara hadir di hilir, ketika persoalan sudah menjadi krisis.

Hilir yang Sibuk, Hulu yang Sunyi

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini