News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Jendela-jendela yang Kita Biarkan Retak

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto ilustrasi. Foto ini menggambarkan suasana mudik lebaran.

Kita melihatnya setiap hari.

Aparat bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih kompleks. Penertiban meningkat. Regulasi diperketat. Operasi dilakukan di mana-mana. Tetapi masalah tidak juga berkurang secara mendasar—ia hanya berpindah bentuk.

Ini seperti memperbanyak petugas pemadam kebakaran tanpa pernah membangun sistem pencegahan kebakaran.

Kita lupa bahwa dalam logika broken windows,
ketertiban bukan dimulai dari penegakan hukum, tetapi dari perawatan nilai.

Ketika pelanggaran kecil dibiarkan di rumah, di sekolah, di ruang sosial—maka negara akan dipaksa menangani pelanggaran besar di jalanan.

Belajar dari Dunia: Memperbaiki Jendela Sejak Awal

Beberapa negara pernah berada di titik yang sama—dan memilih kembali ke hulu.

Di New York City, pada 1990-an, pemerintah tidak hanya menindak kejahatan besar. Mereka memperbaiki “jendela-jendela kecil”: membersihkan grafiti, menata transportasi, menjaga ruang publik tetap rapi.

Pesannya sederhana: kota ini dijaga. Hasilnya bukan hanya penurunan kriminalitas, tetapi perubahan psikologi kolektif.

Di Jepang, pendidikan karakter dimulai dari hal paling kecil: siswa membersihkan kelasnya sendiri. Bukan soal kebersihan semata, tetapi tentang tanggung jawab. Mereka tidak diajarkan sekadar menjadi pintar, tetapi menjadi tertib.

Di Finlandia, sistem pendidikan tidak terburu-buru mengejar angka. Mereka membangun kepercayaan, keseimbangan hidup, dan kualitas relasi antara guru dan murid.

Hasilnya bukan hanya prestasi akademik, tetapi manusia yang utuh.

Di Singapura, ketertiban bukan hanya hasil hukum yang tegas, tetapi konsistensi sejak awal: dari pendidikan, tata kota, hingga budaya publik.

Pelanggaran kecil tidak dibiarkan menjadi kebiasaan.

Mereka semua memahami satu hal: peradaban dijaga dari hulu, bukan diperbaiki di hilir.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini