Situasi 2026 dihadapi dengan modal kepercayaan yang jauh lebih tipis dibanding saat pandemi, ketika pelanggaran batas defisit dikomunikasikan dengan jernih dan ditangani secara kredibel.
Pasar punya memori yang panjang, dan ia membaca selisih itu dengan teliti.
Rupiah dulu tertekan karena defisit neraca berjalan, cadangan devisa tipis, inflasi tinggi — semua variabel yang bisa dijawab langsung oleh instrumen moneter.
Tekanan Rupiah sekarang bergerak di dimensi persepsi atas arah kebijakan, konsistensi sinyal dari pengambil keputusan, dan kepercayaan pada institusi. Bank sentral tidak punya alat untuk itu.
Yang pasar sedang tunggu adalah batas defisit yang dipegang teguh dan bisa dibaca dengan jelas, tata kelola Danantara yang transparan dan dapat diaudit, serta sinyal independensi BI yang tidak perlu dipertanyakan — pilihan-pilihan yang membangun kepercayaan secara diam-diam di mata investor global.
Indonesia tidak kekurangan kekuatan fundamental. Pertumbuhan masih di atas 5 persen. Cadangan devisa tujuh kali lipat lebih tebal dari 1998. Inflasi terkendali. Kredit dan simpanan perbankan tumbuh sehat.
Yang dibutuhkan adalah keberanian menyuntikkan realisme ke dalam kebijakan ekonomi, memperkuat institusi, dan menjaga konsistensi — bukan mengejar target ambisius yang fondasinya belum siap (IMF, 2025).
Rupiah yang undervalued adalah peluang masuk yang menarik bagi investor yang membaca fundamentalnya dengan cermat.
Peluang itu sudah terbuka cukup lebar. Kepercayaan yang membuatnya diambil tidak bisa datang dari Jalan Thamrin. Ia justru harus datang dari Istana.
Baca tanpa iklan