News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Memutus Lingkaran Setan 'Kemiskinan Mobilitas' di Perkotaan

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Di perkotaan, kemiskinan sering kali berkelindan dengan masalah kepadatan penduduk, mahalnya biaya hidup. Mereka yang paling merasakan dampak langsung jika sistem transportasi umum kita tidak segera dibenahi.

KEMISKINAN sering kali diukur dari apa yang ada di dalam dompet, namun jarang kita sadari bahwa kemiskinan juga ditentukan oleh seberapa mudah seseorang bergerak dari rumahnya. 

Faktanya, jalan keluar dari jerat finansial sering kali tersumbat bukan karena malas bekerja, melainkan karena akses mobilitas yang lumpuh. Hubungan antara tingkat kemiskinan dan layanan transportasi umum itu sangat erat dan saling mempengaruhi .

Berdasarkan data resmi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan Indonesia adalah sekitar 11,64 juta orang (atau secara persentase sebesar 7,09 persen).

Jika kita melihat potret kemiskinan di Indonesia secara keseluruhan, terdapat dinamika yang menarik antara wilayah perkotaan 11,64 juta orang (7,09%) dan perdesaan 13,58 juta orang (11,79%).

Meskipun secara persentase tingkat kemiskinan di desa jauh lebih tinggi (11,79%), jumlah mutlak warga miskin di kota yang mencapai belasan juta orang ini menghadapi tantangan yang sangat kompleks.

Di perkotaan, kemiskinan sering kali berkelindan dengan masalah kepadatan penduduk, mahalnya biaya hidup. Angka 11,64 juta jiwa ini adalah kelompok masyarakat rentan di kota yang paling merasakan dampak langsung jika sistem transportasi umum kita tidak segera dibenahi.

Hubungan antara tingkat kemiskinan dan kualitas transportasi umum rupanya sangat erat dan saling memengaruhi. Dalam studi kebijakan publik dan perencanaan kota, keterikatan ini kerap memicu lingkaran setan yang dikenal sebagai kemiskinan mobilitas (mobility poverty).

Sederhananya, ketika akses transportasi buruk, masyarakat berpenghasilan rendah akan semakin terisolasi secara ekonomi. Sebaliknya, jika sistem transportasi umum dibenahi dengan baik, ia bisa menjelma menjadi mesin pengentas kemiskinan yang sangat efektif.

Baca juga: Keterbatasan Anggaran Jadi Hambatan Pengembangan Infrastruktur Transportasi Perkotaan

Banyak masyarakat berpenghasilan rendah terpaksa tinggal di pinggiran kota atau kawasan sub-urban karena harga sewa tanah di pusat kota sudah tidak terjangkau. Ironisnya, pusat lapangan kerja, fasilitas kesehatan, dan pendidikan berkualitas justru tetap terpusat di jantung kota.

Jika layanan transportasi umum tidak menjangkau wilayah pinggiran tersebut atau frekuensinya sangat minim, warga miskin akan kesulitan untuk mendapatkan, apalagi mempertahankan, pekerjaan yang layak.

Bagi keluarga miskin, biaya angkutan sering kali menguras persentase yang sangat besar dari total pendapatan bulanan mereka. Jika tidak ada transportasi umum, mereka terpaksa beralih ke kendaraan pribadi, seperti sepeda motor melalui skema kredit yang memberatkan, belum lagi ditambah beban biaya bensin dan perawatan rutin.

Sementara itu, jika mereka menggunakan transportasi umum yang tidak terintegrasi, mereka harus membayar berkali-kali karena kerap berpindah moda untuk satu kali perjalanan. Akibatnya, pengeluaran mereka justru semakin melambung tinggi.

Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Terbaru Capai 23,36 Juta Orang, Terbanyak di Jawa

Banyaknya waktu yang habis di jalan akibat kemacetan parah atau buruknya transportasi umum secara otomatis memangkas produktivitas warga. 

Padahal, waktu yang terbuang tersebut berharga dan seharusnya bisa digunakan untuk hal lain, seperti mengambil kerja paruh waktu, beristirahat demi menjaga kesehatan, atau mendampingi anak-anak belajar di rumah.

Selain itu, transportasi yang tidak dapat diandalkan dan sering terlambat juga memperbesar risiko mereka terkena sanksi hingga dipecat dari pekerjaan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini