Tribun Bisnis

Produk Kelapa Banyak Diminati Karena Nilai Ekonominya Tinggi kata Moeldoko

Ketua Umun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko berharap pemerintah melakukan penguatan pertanian kelapa.

Editor: Toni Bramantoro
Produk Kelapa Banyak Diminati Karena Nilai Ekonominya Tinggi kata Moeldoko
ist
Moeldoko 

Moeldoko berpandangan, ada beberapa isu strategis dalam perkebunan kelapa. Yaitu keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia.

Sebagai negara kepulauan di khatulistiwa yang memiliki iklim dan kontur tanah yang cocok untuk kelapa seharusnya dapat menjadikan Indonesia menjadi produsen kelapa terbesar di dunia.

"Linkage antara petani dan industri yang belum efektif, sehingga belum dapat membentuk sinergi yang dapat mengefisienkan pasar dengan kerja sama win-win solution, diversifikasi dan diferensiasi produk turunan dari kelapa yang membutuhkan percepatan adopsi teknologi dan inovasi industri yang dapat meningkatkan nilai jual kelapa," paparnya.

Selain itu, lanjut Moeldoko, penyelesaian status hukum tanah yang sebagian masih dalam kawasan hutan, disarankan untuk segera diselesaikan.

“Presiden telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 88 tahun 2017 tentang Percepatan Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan. Hal ini juga bermanfaat memudahkan akses terhadap permodalan,” kata Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, kelapa merupakan tanaman yang hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan secara komersial mulai dari batang pohon, buah, sabut, tempurung, hingga air kelapa. Produk-produk yang dapat dihasilkan dari buah kelapa banyak diminati karena nilai ekonominya yang tinggi.

Di antaranya adalah Coconut Crude Oil (CCO), Virgin Coconut Oil (VCO), activated carbon (AC), coconut fiber (CF), coconut charcoal (CCL), serta oleokimia yang dapat menghasilkan asam lemak, metal ester, fatty alkohol, fatty amine, fatty nitrogen, glyserol, dan lain-lainnya.

Sementara itu, daun, sabut, dan batang kelapa juga merupakan bahan baku industri untuk menghasilkan perlengkapan rumah tangga (furniture) seperti keset, sapu, spring bed, matras, dan anyaman lain yang prospektif untuk dikembangkan.

"Potensinya sangat luar biasa untuk bisa memberikan manfaat masyarakat. Apalagi, saat ini Indonesia menjadi eksportir terbesar kedua setelah India. Nilainya sangat tinggi," tutur Moeldoko.

Nilai ekspor kelapa tercatat sebesar 510,14 juta dollar AS di tahun 2010, yang berlipat menjadi 1,21 miliar dollar AS di tahun 2014. Indonesia merupakan eksportir kelapa dan sabut kelapa kedua terbesar di dunia setelah India.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas