Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Saran Misbakhun untuk Sri Mulyani Genjot Potensi Penerimaan dari Cukai: Dikuatkan Kreativitasnya

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati disarankan kreatif dalam menggenjot potensi penerimaan negara.

Saran Misbakhun untuk Sri Mulyani Genjot Potensi Penerimaan dari Cukai: Dikuatkan Kreativitasnya
ISTIMEWA
Politisi Partai Golkar,M Misbakhun 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati disarankan kreatif dalam menggenjot potensi penerimaan negara. Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai, salah satu potensi yang bisa dimaksimalkan untuk mendongkrak penerimaan negara adalah dari cukai.

Berbicara pada rapat kerja Komisi XI DPR dengan Menkeu dan jajaran Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (19/2/2020), Misbakhun menyatakan dukungannya pada upaya pemerintah mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan negara.

“Menurut saya (upaya pemerintah) harus terus didukung karena kita menghadapi situasi-situasi yang mau tidak mau harus dikuatkan kreativitasnya,” katanya.

Baca: Bikin Polusi, Sri Mulyani Juga Usul Kendaraan Bermotor Dikenai Cukai

Politisi Partai Golkar ini mengingatkan, setiap kebijakan tentu memiliki risiko. Pemerintah harus mengantisipasi dan meminimalkan risiko yang berpotensi menimbulkan ekses negatif.

Misbakhun lantas mengkritik usul pemerintah tentang penerapan cukai untuk kantong plastik atau tas keresek. Menurutnya, seharusnya pemerintah dengan alasan keadilan dan keberlanjutan lingkungan berani memberlakukan cukai pada barang-barang plastik selain kantong keresek.

Baca: Misbakhun Ingatkan Hindari Lembaga Layanan Keuangan yang tak Tercatat di OJK

“Berapa miliar yang kita dapat dari cukai kantong plastik? Cuma Rp 900 miliar sampai Rp 1,5 triliun dengan risiko (lingkungan) yang sama. Makanya karena risikonya sama usulkan saja memasukkan sepuluh objek sama saja,” katanya.

Misbakhun juga menyoroti usul pemerintah tentang pemberlakuan cukai emisi karbon pada kendaraan bermotor. Mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu itu menegaskan, kendaraan bermotor bukanlah satu-satunya sumber emisi karbon.

Baca: BREAKING NEWS: Air di Pintu Katulampa Capai 150 Cm, Anies Ingatkan Warga Waspada

Menurut Misbakhun, ada sektor industri ataupun manufaktur yang juga menghasilkan emisi. Sebab, sumber utama emisi karbon adalah bahan bakar.

Oleh karena itu seharusnya bahan bakar juga dikenai cukai. “Kenapa kemudian tidak sumber emisinya yang dikenakan fuel surcharge? Hampir di seluruh dunia fuel surcharge itu bagus,” kata dia.

Dia meyakini fuel surcharge untuk emisi karbon bisa mengalahkan penerimaan dari cukai etilalkohol ataupun minuman keras. “Negara kan perlu melakukan upaya lebih kreatif,” tegasnya.

Baca: Nadiem Makarim Bantah Tuduhan Instruksikan Bayar SPP via GoPay : Saya Sudah Tinggalkan Go-Jek

Yang penting, kata Misbakhun, pemerintah bisa memberikan penjelasan dan alasan rasional yang mendasari penerapan kebijakan itu.

Baca: Bayar SPP Pakai GoPay, Nadiem: Itu Bukan Kebijakan Kemendikbud

“Keputusan politik itu sering tidak logis, tetapi harus rasional. Dengan rasionalisasi itu kita bisa menjelaskan kepada publik yang tidak logis bisa masuk akal,” sindir Misbakhun.

Ikuti kami di
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas