Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Sepanjang 2019, Summarecon Agung Bukukan Pendapatan Rp 5,94 Triliun

Kawasan Serpong masih merupakan kontributor pendapatan terbesar dengan kontribusi 40 persen dari total pendapatan unit bisnis.

Sepanjang 2019, Summarecon Agung Bukukan Pendapatan Rp 5,94 Triliun
TRIBUNNEWS.COM/EKO SUTRIYANTO
PT Summarecon Agung Tbk menghadirkan Summarecon Digital Center yang berada di Scientia Garden 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sepanjang 2019, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pendapatan sebesar Rp 5,94 triliun atau meningkat sebesar lima persen dari tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Plaza Summarecon, Jakarta, Rabu (12/8/2020).

Presiden Direktur Summarecon Adrianto P Adhi mengatakan 2019 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan, namun perusahan dapat membukukan pra-penjualan pemasaran sebesar Rp 4,1 triliun melebihi dari target.

"Target yang ditetapkan sebesar Rp 4,0 triliun, dengan sebaran penjualan berdasarkan produk yakni penjualan rumah mencapai 66 persen, apartemen 14 persen, ruko 12 persen, dan kavling sebesar 8 persen," katanya.

Untuk unit pengembangan bisnis properti, jelasnya, mencatat pendapatan sebesar Rp 3.617 miliar, meningkat sebesar Rp 181 miliar atau 5 persen jika dibandingkan dengan pendapatan tahun lalu sebesar Rp 3.436 miliar.

"Unit bisnis pengembangan properti ini merupakan kontributor terbesar bagi kinerja Perusahaan dengan kontribusi sebesar 61 persen dari total pendapatan tahun ini," tuturnya.

Kawasan Serpong masih merupakan kontributor pendapatan terbesar dengan kontribusi 40 persen dari total pendapatan unit bisnis.

Menurut Adrianto, harapan tahun 2019 bahwa ekonomi global akan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2018 ternyata tidak berjalan baik.

"Gejolak ekonomi dan geopolitik, perang perdagangan, dan sentimen proteksionis oleh Amerika Serikat dengan Cina dan mitra dagang lainnya terus berdampak signifikan terhadap ekonomi global pada tahun 2019," kata Adrianto.

"Kami juga memprediksikan beberapa tantangan yang dapat terjadi dari pemilihan Legislatif dan Presiden pada 2019 namun semuanya dapat berjalan dengan lancar," tambahnya.

Dia menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 sebesar 5,02 persen tidak terlalu tinggi jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa PDB yang lebih rendah disebabkan oleh tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dalam perdagangan, industri, konstruksi, informasi komunikasi, dan sektor lainnya.

Ikuti kami di
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas