Tribun Bisnis

Kisah Jatuh-Bangun Edwin Soeryadjaya: Kenangan Pahit Sang Ayah Harus Jual Astra karena Bank Summa

Saat ini Edwin Soeryadjaya menjadi komisaris utama perusahaan tambang batubara besar, Adaro Energy Tbk.

Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Choirul Arifin
Kisah Jatuh-Bangun Edwin Soeryadjaya: Kenangan Pahit Sang Ayah Harus Jual Astra karena Bank Summa
Warta Ekonomi/Medcom
Edwin Soeryadjaya. 

Edwin bersama ayahnya mau melunasi hutang Bank Summa untuk menjaga nama baik keluarga Soeryadjaya.

Nama baik keluarga, kata Edwin, harus dijaga dengan tanggung jawab.

"Salah satu modal utama yang saya warisi dari ayah saya itu nama baik. Kita tidak pernah menipu orang, waktu kesulitan setelah jual Astra pun masih banyak hutang-hutang yang belum bisa terbayar," sambung dia.

Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno
Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, keduanya pernah berkolaborasi mendirikan perusahaan investasi Saratoga Capital. Foto:  stocks.asia

Saat melepas Astra karena Bank Summa mengalami likuidasi, sang ayah, William Soeryadjaya, sama sekali tidak marah pada Edward.

Ayah Edwin adalah sosok yang tidak pernah berlaku kasar kepada anak-anaknya.

"Mungkin ayah saya itu salah satu yang bisa dihitung dengan jari yang di Indonesia itu tidak pernah 'ngemplang,'" tutur Edwin.

Kondisi-kondisi sulit setelah melepas Astra itu dijalani keluarga Soeryadjaya dengan penuh kerja keras dan ketabahan. Bersama ayahnya, Edwin tidak pernah menyerah pada keadaan sulit yang dihadapi.

Mereka saat itu justru terus berikhtiar mengembangkan potensi-potensi yang ada.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Ora et Labora Edwin Soeryadjaya (kedua kiri), Ketua Yayasan Ora et Labora Sandi Rahaju (tengah) dan Direktur Keuangan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Jerry Ngo (kiri), dan Ketua Umum Asosiasi Pembangkit Listrik Indonesia swasta Ali Herman Ibrahim (kanan) melakukan peletakan batu pertama pembangunan SMK Ora et Labora di BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (1/3). PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (Saratoga) mendukung Yayasan Ora et Labora dalam melaksanakan pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Teknik Ketenagalistrikan yang pertama di Indonesia. Saratoga dan Ora et Labora terbuka untuk kerjasama dengan perusahaan lain dalam mengembangkan SMK program ketenagalistrikan. TRIBUNNEWS/HO
Ketua Dewan Pembina Yayasan Ora et Labora Edwin Soeryadjaya (kedua kiri), Ketua Yayasan Ora et Labora Sandi Rahaju (tengah) dan Direktur Keuangan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Jerry Ngo (kiri), dan Ketua Umum Asosiasi Pembangkit Listrik Indonesia swasta Ali Herman Ibrahim (kanan) melakukan peletakan batu pertama pembangunan SMK Ora et Labora di BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (1/3). PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (Saratoga) mendukung Yayasan Ora et Labora dalam melaksanakan pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Teknik Ketenagalistrikan yang pertama di Indonesia. Saratoga dan Ora et Labora terbuka untuk kerjasama dengan perusahaan lain dalam mengembangkan SMK program ketenagalistrikan. TRIBUNNEWS/HO (TRIBUN/HO)

"Yang utama waktu itu saya lihat anak-anak saya masih kecil, jadi saya harus menghidupi merek. Saya putar otak, putar otak," kata Edwin.

Banyak usaha-usaha yang pada masa sulit itu justru kembali ditekuni Edwin. Saat berusaha untuk bangkit, Edwin mendengar kabar bahwa PT Telkomsel akan mendapat kontrak dengan swasta untuk melakukan pembangunan.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas