Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Mandiri Sekuritas Optimis Laju IHSG Akhir Tahun Tembus 6.850

Adrian Joezer mengatakan, kasus positif Covid-19 pada saat ini memang mengalami kenaikan, yang akhirnya menekan pergerakan manusia. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mandiri Sekuritas Optimis Laju IHSG Akhir Tahun Tembus 6.850
Tribunnews/Irwan Rismawan
Jurnalis berada di depan layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (10/9/2020). Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mandiri Sekuritas tetap optimis laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini bakal menembus level 6.850, meski pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia. 

Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, kasus positif Covid-19 pada saat ini memang mengalami kenaikan, yang akhirnya menekan pergerakan manusia. 

"Tapi kami lihat pemulihan semester kedua nanti lebih kuat. Kalau dilihat di Amerika Serikat contohnya produsen vaksin, sudah di atas 50 persen, berarti sudah vaksinasi lebih dari 200 juta orang," papar Joezer secara virtual, Selasa (29/6/2021).

"Sehingga kapasitas mereka (vaksinnya) bisa dipakai untuk negara berkembang," sambungnya.

Baca juga: IHSG Diperkirakan Masih Lanjutkan Pelemahan

Dengan vaksinasi secara masif di dalam negeri, maka akan menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok yang lebih kuat dan akhirnya ekonomi Indonesia bisa bergerak lebih cepat. 

Baca juga: IHSG Naik 0,25 Persen Sepekan, Kapitalisasi Pasar Capai Rp 7,128 Triliun 

Apalagi, kata Joezer, isu tapering di Amerika dan ekonominya dinyakini belum pulih secara maksimal, membuat investor masuk ke pasar modal negara berkembang, seperti Indonesia. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Kami melihat pemulihan di Amerika belum full, ini membuat untung emerging market dan peforma kinerja ditolong oleh kebijakan bank sentral yang masih akomodatif di dunia," paparnya. 

"Perlu diingat juga, kondisi Covid masih parah, berarti saham itu ditopang bukan dari earning growth (pertumbuhan laba) tapi ditopang dari kebijakaj sentral bank," sambungnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas