Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

KBRI Jajaki Peluang Kerja Sama Industri Pupuk Dengan Brunei Fertilizer Industries

BFI menawarkan suplai pupuk urea sekiranya diperlukan tambahan suplai bagi Indonesia dalam rangka pengembangan program Food Estate

KBRI Jajaki Peluang Kerja Sama Industri Pupuk Dengan Brunei Fertilizer Industries
ist/dok KBRI Brunei Darussalam
Wakil Kepala Perwakilan RI KBRI Brunei Darussalam, Irwan Iding saat bertemu dengan CEO Brunei Fertilizer Industries 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, BRUNEI  – Peralatan kemaritiman dan penyewaan kapal angkut dari Indonesia mempunyai peluang untuk digunakan untuk oleh pabrik urea di Brunei Darussalam.

KBRI Darussalam melakukan pendekatan ke Brunei Fertilizer Industries (BFI) di Sungai Liang Industrial Park pada Selasa (27/07/2021) melihat peluang tersebut.

“Peluang memasarkan peralatan maritime (maritime equipment) seperti fender, buoys, dan penyewaan kapal laut angkut terkait dengan rencana pengoperasian pelabuhan ekspor yang dimiliki Brunei Fertilizer Industries," kata Wakil Kepala Perwakilan RI KBRI Brunei Darussalam, Irwan Iding saat bertemu dengan CEO BFI.

CEO Brunei Fertilizer Industries menyampaikan apresiasi dan respon baik atas kunjungan, maupun penawaran kerja sama dengan Indonesia.

Dengan akan dimulainya produksi BFI pada akhir tahun 2021, BFI menawarkan suplai pupuk urea sekiranya diperlukan tambahan suplai bagi Indonesia dalam rangka pengembangan program Food Estate, dengan menawarkan perdagangan langsung untuk penjualan pupuk urea ke Indonesia.

Di informasikan juga bahwa terdapat puluhan tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di BFI dan tidak menutup kemungkinan jumlah ini akan bertambah.

BFI dibangun sejak 2018 di lahan seluas 55 hektar dilengkapi dengan On-Shore Port, pelabuhan khusus untuk mengekspor pupuk urea ke berbagai negara dan direncanakan ekspor perdana pada akhir 2021 dengan kapasitas produksi 1,3 juta ton per tahun.

Pabrik ini sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Brunei dan merupakan bagian dari upaya diversifikasi ekonomi Brunei, khususnya di sektor industri hilir (downstream) migas.

“Pabrik ini akan menjadi salah satu terbesar di Asia Tenggara dan bagian dari proyek besar migas hilir di Brunei, selain Brunei Methanol Industry dan Refinery Oil,” ungkapnya.

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas