Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Diprediksi Masih Akan Melemah Pekan Depan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pekan depan diprediksi masih akan melemah, seiring kuatnya tekanan sentimen negatif dari eksternal.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Rupiah Diprediksi Masih Akan Melemah Pekan Depan
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Teler menghitung uang dollar AS dan yen Jepang saat transaksi valuta asing di Bank BNI Sudirman, Jakarta Selatan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pekan depan diprediksi masih akan melemah, seiring kuatnya tekanan sentimen negatif dari eksternal. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pekan depan diprediksi masih akan melemah, seiring kuatnya tekanan sentimen negatif dari eksternal.

"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 14.830 sampai Rp 14.890 per dolar AS," kata Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, Sabtu (25/6/2022).

Pada perdagangan kemarin, rupiah melemah tipis 7 poin walaupun sempat merosot 20 poin ke posisi Rp 14.847 dari penurupan hari sebelumnya Rp 14.840 per dolar AS. 

Ibrahim menjelaskan, petinggi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) telah mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga acuannya kembali 75 basis poin pada Juli 2022, untuk menjinakan inflasi di negeri Paman Sam tersebut. 

"Kemudian diikuti oleh beberapa kenaikan setengah poin lagi, guna untuk menjinakkan inflasi, bahkan di tengah risiko terhadap pertumbuhan," paparnya.

Baca juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Emiten Ini Dapat Keuntungan

Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menambahkan, penguatan dolar AS bukan hanya melemah rupiah saja, tetapi mata uang negara lain juga mengalami pelemahan bahkan lebih dalam. 

Baca juga: Sentimen The Fed Masih Jadi Penekan Laju Rupiah Melemah

Rekomendasi Untuk Anda

"Hali ini masih terkait dengan rencana The Fed yang semakin agresif. Selain itu sentimen negatif juga muncul dari tren harga CPO yang cenderung menurun dalam beberapa waktu terakhir," kata Rully.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas