Tribun Bisnis

Asosiasi Semen Indonesia Minta BLU Batubara Tidak Eksklusif Hanya untuk Sektor Kelistrikan

Asosiasi semen meminta BLU Batubara tidak hanya eksklusif untuk sektor kelistrikan tetapi juga memenuhi kebutuhan industri lain.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
zoom-in Asosiasi Semen Indonesia Minta BLU Batubara Tidak Eksklusif Hanya untuk Sektor Kelistrikan
Warta Kota/Henry Lopulalan
ilustrasi: Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso meminta Badan Layanan Umum (BLU) Batubara tidak hanya eksklusif untuk sektor kelistrikan tetapi juga memenuhi kebutuhan industri lain. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso meminta Badan Layanan Umum (BLU) Batubara tidak hanya eksklusif untuk sektor kelistrikan tetapi juga memenuhi kebutuhan industri lain.

Menurutnya, BLU Batubara seharusnya menyertakan industri non-kelistrikan seperti semen dan pupuk dalam skemanya.

"Peran dari batu bara memang cukup tinggi karena memang batubara digunakan selain sebagai bahan produksi juga sebagai bahan bakar langsung," kata Widodo dalam webinar Bertajuk Tantangan BLU Batu bara Membentuk Ketahanan Rantai Suplai Energi Nasional, dikutip Rabu (3/8/2022).

Baca juga: PLTU Lontar Extension Manfaatkan Batubara Rendah Kalori Dukung Industri Lokal

Widodo memaparkan kondisi pasar semen di Indonesia yang kekinian tetap tumbuh 1,24 persen hingga Juni tahun ini mencapai 29,36 juta ton untuk penjualan domestik sedangkan ekspor mencapai 4,77 juta ton.

Dia menegaskan banyak pertimbangan agar industri semen masuk dalam skema BLU Batubara mulai dari industri semen yang termasuk 10 barang penting kebutuhan nasional hingga menjadi salah satu industri strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

"Termasuk pembangunan ibukota baru yang membutuhkan 2,5 juta ton semen per tahun untuk periode tahun 2023 sampai dengan 2025," kata Widodo.

"Belum lagi, setiap tahun jutaan rumah dibutuhkan oleh masyarakat terutama golongan masyarakat bawah dan menengah karena berdasarkan konsumsi properti sekitar 50 juta ton per tahun atau 80 persen dari total konsumsi nasional," tukasnya.

Baca juga: Listrik Kita Bergantung Batubara, Mengapa TDL Dinaikkan?

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Fathul Nugroho menambahkan pada dasarnya industri batu bara juga harus siap jika harga batubara mulai kembali ke normal seiring dengan akan meningkatnya suplai dari negara seperti China dan Australia.

Fathul menyebut, dalam praktiknya industri semen juga perlu mendapatkan jaminan suplai batu bara untuk itu industri ini juga perlu masuk dan diatur dalam skema BLU.

"Industri semen punya andil besar untuk pembangunan negara, kita harus pastikan jangan sampai industri ini semakin kesulitan mendapatkan suplai batu bara karena efek untuk perekonomian nasionalnya juga besar," urainya.

Diketahui, pemerintah berencana membangun Badan Layanan Umum (BLU) Batubara untuk mengontrol harga batu bara.

Kebijakan ini rencananya akan menggantikan kebijakan harga khusus DMO batu bara untuk PT PLN (Persero).

Beberapa pihak mengusulkan agar BLU Batu bara ini untuk tidak menyertakan industri non-kelistrikan dalam skemanya.

Artinya industri pupuk dan semen harus membeli batu bara sesuai harga pasar tanpa ada mekanisme subsidi.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas