Tribun Bisnis

Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Resilient Hadapi Krisis, Kualitas SDM Sangat Menentukan

perekonomian Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu yang paling resilient (tahan) terhadap berbagai tantangan tersebut.

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Resilient Hadapi Krisis, Kualitas SDM Sangat Menentukan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUTRASI Suasana gedung-gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (19/8/2020). Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi perekonomian Indonesia selama 2020 tumbuh minus 0,49 persen sebagai dampak pandemi COVID-19. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah guncangan krisis akibat gangguan pasokan energi dunia dan ancaman inflasi di banyak negara akibat pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina, perekonomian Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu yang paling resilient (tahan) terhadap berbagai tantangan tersebut.

Laporan terbaru Global Economic Prospect (GEP) bulan Juni 2022 menyebutkan, pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 5,7 persen di tahun 2021 menjadi hanya 2,9 persen di tahun 2022 akibat eskalasi berbagai risiko.

Adanya goncangan supply chain, akibat dari dampak pandemik dan resiko global yang terjadi berdampak pada meningkatnya harga komoditas dan ongkos produksi yang lebih mahal, yang diprediksi akan terus naik di 2023 hingga 2030 mendatang.

Kondisi demikian akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi sehingga perlu menjadi perhatian bersama.

"Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara yang paling resilien di tengah berbagai risiko global yang terjadi. Tentunya ini juga menjadi indikator banyaknya peluang baik bagi pertumbuhan organisasi di Indonesia," ujar Atok R Aryanto, Chairman Indonesia Leadership Conference (IDLC) 2022.

Atok mengatakan, pemimpin organisasi termasuk perusahaan perlu bisa melewati tantangan dan mengoptimalkan peluang yang ada demi memastikan organisasi yang dikelola tetap bertumbuh dan semakin kuat.

“Untuk memastikan organisasi terus bertumbuh dan dapat melewati berbagai tantangan dan mengoptimalkan peluang yang ada, salah satu faktor penentunya adalah sumber daya manusia di dalamnya,” ujar Atok.

Hal ini sejalan dengan hasil kajian dari Deloitte (2020)1 yang menyebutkan bahwa untuk membuat organisasi dapat berkembang pesat hingga di masa depan adalah dengan fokus menyiapkan sumber daya manusia.

Namun, Deloitte 2021 Global Human Capital Trends menyatakan 89 persen pekerja menyatakan kehidupan kerja mereka semakin buruk.

Baca juga: Pakar UGM: IPEF Bisa Jadi Momentum Diplomasi Politik dan Ekonomi di Kawasan

State of the Global Workplace: 2022 Report juga membuktikan hanya 33 persen pekerja yang merasa bahwa mereka dapat berkembang pesat, bertahan hingga di masa depan.

Menurut Atok, hal ini perlu menjadi perhatian para pemimpin, karena kondisi dan kualitas SDM di organisasi tergantung dari bagaimana pemimpin membentuk mereka hingga dapat siap menghadapi berbagai tantangan dan peluang di masa depan.

"Pemimpin perlu hal berbeda untuk dapat memastikan SDM-nya siap menghadapi tantangan dan dapat membawa organisasi untuk bisa terus bertumbuh hingga di masa yang akan datang," ujarnya.

Strategi menyiapkan SDM yang andal di organisasi untuk menghadapi beragam tantangan di masa depan ini akan dibedah bersama para pemimpin tim dan organisasi, khususnya para pemimpin perusahaan di sektor swasta, kementerian dan BUMN di event Indonesia Leadership Conference 2022 selama dua hari yang akan mengangkat tema “How Leaders Shape Future-Ready Workforce” pada 18-19 Oktober 2022.

Conference ini antara lain bakal dihadiri Ketua Umum KADIN Indonesia Arsjad Rasjid, Inspirator SuksesMulia Jamil Azzaini dan Dr. Indrawan Nugroho, Co Founder Kubik Leadership, serta Raymond Rasfuldi, Direktur Utama Tripatra.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas