Tribun Bisnis

Dibatalkannya Program Konversi Kompor LPG ke Listrik Dinilai Langkah Bijak Redam Polemik

keputusan PLN membatalkan program konversi LPG ke kompor listrik karena PLN tak ingin terburu-buru dalam implementasi program tersebut.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Dibatalkannya Program Konversi Kompor LPG ke Listrik Dinilai Langkah Bijak Redam Polemik
HO
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengapresiasi langkah PLN yang membatalkan program konversi kompor LPG ke kompor listrik. 

Dalam kritikannya Mulan menilai kebijakan untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari menggunakan kompor LPG menjadi menggunakan kompor listrik hanya akan menimbulkan masalah baru.

"Menurut saya program kompor gas ke kompor induksi ini sepertinya apa yang disampaikan pak Bambang ini betul, menyelesaikan masalah dengan masalah baru," ujar Mulan Jameela.

Baca juga: Program Kompor Listrik Sempat Dikritik Mulan Jameela hingga Akhirnya Dibatalkan PLN

"Berhubung saya ini ibu-ibu yang ngurusin kompor di dapur mengerti betul, kompor yang dibutuhkan kompor seperti apa. Kami-kami ini para emak-emak, butuh masak pake kompor yang kayak apa," lanjut Mulan.

Mulan mengaku kebijakan untuk pindah ke kompor listrik terlalu terburu-buru.

Ia menjelaskan lebih panjang, jika masyarakat perlu menambah biaya untuk membeli wajan baru dan akan kesulitan jika ada hajatan.

Mulan juga menjelaskan jika masakan Indonesia tidak cocok jika dimasak menggunakan kompor listrik.

"Saya tahu betul Kementerian Perindustrian hanya melaksanakan mandat. Urusan program ini adalah kebijakan PLN dengan Bapak Presiden, tapi saya lihat sepertinya terlalu terburu-buru gitu, kok mendesak banget."

"Tadi menyampaikan harga kompor induksi ini Rp 1,5 juta, boleh tanya nggak sudah termasuk wajah sama panci? Apakah tersedia ke berbagai ukuran? Kalo ibu-ibu pasti baliknya ke situ. Belum lagi wajan pancinya mahal-mahal pak."

"Saya jujur ya, saya bicara di sini kapasitasnya sebagai Anggota DPR RI sekaligus sebagai emak-emak. Kami di rumah aja punya kompor listrik, tetap tidak bisa lepas dari kompor gas, kenapa?

Ya karena masakan Indonesia beda sama masakan bule, yang pancinya udah seukuran gitu. Apalagi kalo ada hajatan, mana cukup?"

"Kalo kompor gas, maaf ya pak kita tahu Kementerian Perindustrian hanya melaksanakan mandat dan ini tujuannya untuk bagaimana menyelesaikan masalah over supply listrik, tahu betul tapi mbok ya dipikir ini bener-bener menimbulkan masalah lagi," lanjut Mulan

Mulan menjelaskan jika kompor LPG 3 kg masih dibutuhkan untuk masyarakat.

"Kalo memang ada teknologinya untuk UMKM untuk gerobak-gerobak ya silahkan. Kalo kita bahas sekarang, dalam situasi BBM naik , ini naik, itu naik, masyarakat stres. Saya diprotes masyarakat di kampung," ujar Mulan menambahkan.

Terakhir, Mulan menegaskan jika kompor listrik dirasa kurang sesuai dengan budaya memasak masyarakat Indonesia.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas