Tribun Bisnis

Resesi Ekonomi

Kementerian Investasi Ungkap Dua Sektor Industri Ini Akan Tetap Cerah di Tengah Ancaman Resesi 2023

Indonesia harus tetap waspada menghadapi tahun 2023, karena proyeksi ekonomi global menurun dari level 4 dan sekarang di level 2.

Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Kementerian Investasi Ungkap Dua Sektor Industri Ini Akan Tetap Cerah di Tengah Ancaman Resesi 2023
Nitis Hawaroh
Direktur Bidang Perencanaan dan Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indra Darmawan usai acara Bali Kompedium di InterContinental, Bali, Senin (14/11/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nitis Hawaroh

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Bidang Perencanaan dan Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indra Darmawan mengatakan, terdapat dua sektor industri yang dinilai memiliki pertumbuhan positif meski ditengah ancaman resesi ekonomi global pada 2023.

"Sektornya mana yang masih bagus, kalau kita lihat data dan tren itu sektor industri logam dasar dan industri yang terkait nilai tambah seperti nikel dan tembaga," ujar Indra saat ditemui usai acara Bali Kompedium di InterContinental, Bali, Senin (14/11/2022).

Menurut Indra, sektor industri itu mengalami pertumbuhan yang signifikan sejak tiga tahun terakhir. Untuk itu, dia optimis bakal tetap stabil meski ditengah ketidakpastian ekonomi global.

"Itu tiga tahun terakhir, cukup kencang pertumbuhanya. Kita lihat yang tadinya baru masuk ke sektor konstruksi, dia bisa masuk ke sektor produksi," ucap Indra.

Baca juga: Morgan Stanley : Amerika Akan Terhindar dari Resesi pada 2023, Sedangkan Uni Eropa Diprediksi Anjlok

"Yang sebelumnya masuk ke sektor produksi akan masuk ke sektor komersial dan yang masuk sektor komersial dia masuk ekspansi," sambungnya.

Meski begitu, Indra menegaskan Indonesia harus tetap waspada menghadapi tahun 2023. Sebab, proyeksi ekonomi global menurun dari level 4 dan sekarang di level 2.

"Jadi ini berpotensi mengalami perlambatan. Kalau kita tidak mengantisipasi dan terlena, itu kita tidak bisa mengantisipasi kejadian ditahun depan. Itu yang dibilang gelap. Jadi tone nya optimis tapi waspada," tuturnya.

Disis lain, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah mengatakan, saat ini ekonomi global tengah berperang melawan resesi. Namun, hal itu justru tak berimbas pada ekonomi nasional.

Menurutnya, ekonomi Indonesia mampu tumbuh meski sedikit berdampak akibat guncangan ekonomi global yang tidak menentu.

"Apa alasan kita untuk kita mengatakan resesi. Global memang akan melambat (ekonomi), tapi bukan berati kita juga akan ikutan resesi. Kita (Indonesia) akan terdampak negatif iya, tapi tidak membuat kita tumbuh negatif," kata Piter Abdullah kepada Tribunnews.com, Senin (7/11/2022).

Lebih lanjut, Piter mengatakan, meski bayang-bayang resesi global, ekonomi nasional mampu tumbuh positif sesuai prediksi pemerintah yang memperkirakan ekonomi nasional bakal tumbuh diangka 5 persen pada triwulan ke III.

"Kita tidak akan tumbuh negatif, diperkirakan akan tumbuh sekitar 5 persen. Itu sudah terdampak oleh kondisi global, kalau kondisi globalnya membaik ya kita bisa tumbuh diatas 5 persen. Jadi enggak perlu kekhawatiran terkait resesi global," tuturnya.

Piter menegaskan, perekonomian Indonesia justru tengah mengalami peningkatan dalam proses pemulihan, pada triwulan III, ekonomi nasional diyakini akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan I dan II.

"Artinya perekonomian kita justru membaik ditengah kondisi yang dikhawatirkan tadi resesi global. Perekonomian kita mengalami surplus perdagangan yang tidak berhenti dan tidak putus mulai dari akhir tahun 2020," tegasnya.

Baca juga: Kepala BKPM Was-was Ekses Resesi ke Perekonomian RI, Potensi Investasi Sedang Naik

Selain itu, Piter menambahkan, perekonomian Indonesia terbukti baik-baik saja. Kata dia, hal itu tergambar oleh survei indeks keyakinan konsumen, purchasing manager index serta index penjualan ril, menunjukkan indikator yang positif.

"Ditengah kondisi yang sangat sulit, global yang sudah mengalami kesulitan mulai dari krisis pangan, krisis energi yang disebabkan oleh perang Ukraina, utamanya di Eropa, kita (Indonesia) kan tidak apa-apa sekarang," ujar dia.

"Kita itu sekarang dalam kondisi yang membaik, di dorong oleh mereda nya Pandemi Covid-19. Sekarang ini kan mobilitas masyarakat membaik, confidence masyarakat itu membaik dan konsumsi kita naik," sambungnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas