Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Menguat ke Rp 17.475 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sikap BI dan Data Inflasi AS

Nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.475 - Rp17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2026) sore.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Rupiah Menguat ke Rp 17.475 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sikap BI dan Data Inflasi AS
Tribunnews/JEPRIMA
SORE INI RUPIAH MENGUAT - Pegawai bank menunjukkan uang dollar Amerika Serikat (AS) di kantor cabang Bank Muamalat Melawai, Jakarta Selatan. Nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.475 - Rp17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2026) setelah sempat melemah pada pagi tadi. 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.475 - Rp17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2026) sore.
  • Pasar kembali khawatir terhadap potensi berkepanjangannya konflik AS-Iran yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi minyak dunia.
  • Pasar menunggu data indeks harga produsen AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.475 - Rp17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2026) setelah sempat melemah pada pagi tadi.

Penguatan rupiah ditopang oleh aksi intervensi ke pasar oleh Bank Indonesia. Rupiah menguat 54 poin atau 0,30 persen ke Rp17.475 per dolar AS di tengah sentimen global yang masih dibayangi konflik geopolitik Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Penguatan rupiah terjadi meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak menguat.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi "kritis".

Menurut Ibrahim, pasar kembali khawatir terhadap potensi berkepanjangannya konflik AS-Iran yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Rekomendasi Untuk Anda

"Komentar tersebut meredam optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi. Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Rabu (14/5/2026).

Ia menambahkan, perang Iran mulai memberikan tekanan terhadap ekonomi AS seiring kenaikan harga energi yang mendorong inflasi lebih tinggi.

Baca juga: Ada Rebalancing, IHSG Ditutup Melemah 1,98 Persen ke Level 6.723,32

Tercatat, inflasi konsumen AS pada April 2026 naik 0,6 persen secara bulanan, sedangkan secara tahunan mencapai 3,8 persen atau tertinggi sejak pertengahan 2023.

"Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve. Para pedagang telah mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini," terang Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti posisi utang pemerintah yang mencapai Rp 9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026.

Meski meningkat dibanding akhir 2025, pemerintah menilai rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,75 persen masih dalam batas aman.

Baca juga: Rupiah Tertekan, Pelemahan Mata Uang Asia Dipicu Kemenangan Opini AS atas Iran

Selain itu, Bank Indonesia juga disebut terus melakukan intervensi di pasar offshore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan global.

"BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 18 Mei 2026 dengan intervensi di pasar valas serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder," kata Ibrahim.

Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat 53 poin ke level Rp 17.475 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.528 per dolar AS.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas