Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Nasib Perantau Terkait Larangan Mudik Lebaran, Terpaksa Rayakan Hari Raya Tak Bersama Keluarga

Dua orang perantau bernama Reny Mardikasari dan Cahyo Adi Widananto menceritakan kisah mereka menjadi perantau yang dilarang mudik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Inza Maliana
zoom-in Nasib Perantau Terkait Larangan Mudik Lebaran, Terpaksa Rayakan Hari Raya Tak Bersama Keluarga
(Warta Kota/Henry Lopulala)
Ilustrasi mudik lebaran 2020 (Warta Kota/Henry Lopulala) 

"Jadi terbayangkan bagaimana sepinya momen sahur dan buka sendiri."

"Apalagi tarawih dianjurkan di rumah juga," tutur Reny yang bekerja di salah satu televisi swasta itu.

ILUSTRASI jalan tol ditutup saat mudik - Sejumlah kendaraan pemudik antrean panjang saat memasuki jalan tol Cipali km 42, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (21/6/2017). H-4 jelang Lebaran 2017, sejumlah kendaraan pemudik mulai memadati Tol Cipali menuju tol Fungsional Brebes-Pemalang Jawa Tengah. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
ILUSTRASI jalan tol ditutup saat mudik - Sejumlah kendaraan pemudik antrean panjang saat memasuki jalan tol Cipali km 42, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (21/6/2017). H-4 jelang Lebaran 2017, sejumlah kendaraan pemudik mulai memadati Tol Cipali menuju tol Fungsional Brebes-Pemalang Jawa Tengah. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha (WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA)

Baca: Larangan Mudik Berlaku Bagi Warga Jabodetabek, Daerah PSBB, dan Zona Merah Corona

Terkait informasi larangan mudik lebaran yang baru diumumkan, Reny mengaku sudah tidak terkejut lagi.

Sebab ia sudah mendengar desas-desus soal larangan mudik lebaran sejak satu bulan yang lalu.

Bahkan, keluarga Reny pun meminta agar dirinya tidak perlu mudik lebaran.

Terlebih informasi yang ia peroleh, di kampung halamannya sudah ada warga yang terkena Covid-19.

"Mereka sudah memahami situasi dan kondisi sekarang. Apalagi saya baca berita dan dengar perkembangan kondisi di kampung halaman saya, sudah mulai ada warga yang positif, PDP dan ODP," jelasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Mirisnya lagi, mereka sebelumnya melakukan mudik dari zona merah."

"Ini bukti kalau tingkat kewaspadaan masyarakat masih sangat-sangat kurang," ungkapnya.

Ribuan pemudik dari wilayah Semarang dan beberapa wilayah di Jawa Tengah terlihat memadati Stasiun Tawang Semarang, Kamis (21/6/19). Para penumpang yang memadati Stasiun Tawang pada umumnya kebanyakan akan kembali bekerja ke sejumlah wilayah seperti Jakarta dan Surabaya. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)
Ribuan pemudik dari wilayah Semarang dan beberapa wilayah di Jawa Tengah terlihat memadati Stasiun Tawang Semarang, Kamis (21/6/19). Para penumpang yang memadati Stasiun Tawang pada umumnya kebanyakan akan kembali bekerja ke sejumlah wilayah seperti Jakarta dan Surabaya. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) (TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA)

Kendati demikian, Reny mengaku setuju dengan keputusan pemerintah.

"Sejak awal saya pribadi setuju dengan langkah pemerintah meniadakan mudik dan ini tepat."

"Karena aktivitas mudik berpotensi membuat penyebaran virus corona semakin meluas ke berbagai daerah di Indonesia," ungkapnya.

Tidak hanya Reny, satu di antara perantau lain bernama Cahyo Adi Widananto juga turut merasakan hal yang sama.

Cahyo merupakan perantau yang bekerja di salah satu media lokal di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ia pun mengaku sedih dengan keputusan yang diambil oleh pemerintah.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas