Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Saran Pakar Kesehatan Sebelum Memutuskan Membuka Sekolah di Masa Pandemi Covid-19

Memasuki adaptasi kebiasaan baru berbagai sektor yang sebelunnya ditutup untuk menghidnari covid-19

Saran Pakar Kesehatan Sebelum Memutuskan Membuka Sekolah di Masa Pandemi Covid-19
Tribunnews/Jeprima
Ilustrasi: Petugas Kelurahan Jatirahayu membimbing para siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) saat para siswa tersebut melakukan kegiatan belajar mengajar bersama sistem online di ruang aula Kelurahan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/8/2020). Di tengah pandemi Covid-19, proses belajar mengajar dilakukan tanpa tatap muka, pembelajaran daring pun diberlakukan. Namun keterbatasan sarana perangkat, fasilitas, dan ekonomi menjadi salah satu kendala yang harus di hadapi oleh masyarakat setempat. Demi memudahkan siswa/pelajar di Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi tepatnya di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, memfasilitasi warganya dalam belajar online dengan menyediakan WiFi gratis di ruang aula Kelurahan Jatirahayu. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Memasuki adaptasi kebiasaan baru berbagai sektor yang sebelunnya ditutup untuk menghidnari covid-19 pun sudah banyak yang kembali dibuka.

Walaupun kantor dan mall sudah kembali dibuka, restaurant sudah bisa makan di tempat, hotel juga sudah menerima tamu, tapi sekolah masih belum dibuka sehingga para siswa dan mahasiswa masih belajar dari rumah.

Pakar Kesehatan Masyarakat, Dr. Hermawan Saputra menyebutkan pendidikan memang sektor yang paling sensitif dan butuh pertimbangan khusus sebelum membukanya.

Baca: Belajar Tatap Muka di Kota Pariaman Akan Dimulai Kamis Besok Untuk SD, SMP dan SMA Sederajat

"Sektor pendidikan dari awal memang sensitif saat semua sektor dibuka dunia pendidikan juga tidak sabar. Sudah pada kangen, siswa kepingin sekolah, guru juga kangen muridnya," kata Dr. Hermawan di acara Virtual Press Conference, Launching Produk Proteksi Kesehatan AIA PHS Extra, Rabu (12/8/2020).

Dr. Hermawan menjelaskan pertimbangan utama sebelum membuka sekolah adalah mengingat kembali penyebaran covid-19 ini sangat berpotensi menular kalau berdekatan dan berada dikumpulan orang banyak.

Baca: Alasan Wilayah Zona Merah dan Oranye Belum Bisa Buka Sekolah Tatap Muka

Memang bisa diatur dengan protokol kesehatan, tapi pada siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) yang masih sulit dikontrol diperkirakan agak sulit memastikan mereka selalu mematuhi protokol kesehatan.

"Untuk sekolah-sekolah yang siswanya masih anak-anak sekali seperti TK dan SD belum ada otonomi sifat diberitahu, melihat temannya lari mereka mau ikut, sulit dikontrol dan belum memiliki kesadaran yang cukup," ungkap dr. Hermawan.

Baca: Alasan Wilayah Zona Merah dan Oranye Belum Bisa Buka Sekolah Tatap Muka

"Mungkin untuk SMP atau SMA sudah mulai bisa buka karena mereka sudah bisa lebih haik dibanding anak-anakyang masih kecil," sambung Dr. Hermawan.

Kemudian sebelum membuka sekolah pastikan juga tidak ada satupun di lingkungan sekolah yang terpapar covid-19 termasuk juga orang-orang yang berada di lingkungan sekolah.

"Inilah yang harus menjadi perhatian lebih jika sekolah tersebut berada di zona kuning atau orange sebelum sekolah dibuka lagi," pungkas Dr. Hermawan.

Ikuti kami di
Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas