Tribun

Virus Corona

Epidemiolog: Herd Imunity Tak Bisa Jadi Alasan Pelaksanaan Vaksin Covid-19 Berbayar

Dicky Budiman menilai kebijakan berbayar tersebut dirasa kurang tepat dalam situasi pandemi COVID-19.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Hasanudin Aco
Epidemiolog: Herd Imunity Tak Bisa Jadi Alasan Pelaksanaan Vaksin Covid-19  Berbayar
Tribunnews/Herudin
Warga menjalani vaksinasi Covid-19 di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bunga Rampai 3, Jakarta Timur, Jumat (9/7/2021). Vaksinasi Covid-19 itu menggunakan mobil vaksin keliling yang belum lama diluncurkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Terdapat 16 mobil vaksin keliling yang beroperasi di Jakarta. Dengan mobil vaksin keliling, dapat mempercepat vaksinasi Covid-19 sehingga cepat mencapai herd immunity alias kekebalan komunitas. Tribunnews/Herudin 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Vaksinasi Covid-19 berbayar untuk individu resmi ditunda.

Padahal sebelumnya untuk mendapatkan pelayanan dosis lengkap vaksin COVID-19 masyarakat harus membayar Rp 879.140.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai kebijakan berbayar tersebut dirasa kurang tepat dalam situasi pandemi COVID-19.

Alih-alih mempercepat pembentukan herd imunity, pemerintah diharap terbuka pada kondisi kemampuan finasial.

"Menurut saya terbuka saja kalau memang terbatas dananya. Jadi transparan saja," ujar Dicky saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (12/7/2021).

Baca juga: RS Darurat Asrama Haji Pondok Gede Hanya untuk Pasien Covid-19 Ringan dan Sedang

Lebih jauh Prof Dicky menyarankan, pemerintah transparan pada kondisi penanganan COVID-19 terlebih terkait finasial.

"Sehingga nantinya pihak swastanya mana yang mau membantu pemerintah bukan membantu bukan jadi berbayar menurut seharusnya membantu dalam aspek pembayarannya," jelas Prof Dicky.

Ia mengatakan, tidak ada satupun negara di dunia yang melakukan vaksinasi berbayar untuk tujuan herd imunity.

Menurutnya, perlu proses panjang untuk membentuk kekebalan komunal.

"Kalaupun tujuannya untuk herd imunity itu tidak ada. Karena itu masih panjang, yang sekarang dibicarakan 181,5 juta itu ambang batasnya. Di dunia tidak ada yang berbayar untuk mencapai herd imunity. Iya, ada yang berbayar tapi bukan untuk alasan itu herd imunity," jelasnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas