Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Mashabi, sang peratap dari Tanah Abang

Sebelum Rhoma Irama 'melahirkan' dangdut, Mashabi dan generasinya meramaikan kancah musik melayu pada 1950-1960 dengan gaya modern, yaitu bakal musik dangdut.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Sebelum musisi Rhoma Irama 'melahirkan' dangdut, Mashabi dan generasinya telah meramaikan kancah musik melayu modern pada 1950-1960, yang kelak disebut cikal bakal musik dangdut.

Tetapi siapakah sosok Mashabi? Mengapa namanya begitu melegenda di kalangan penggemar musik melayu di Indonesia? Saya jamin, sebagian besar dari Anda tidak mengenalinya.

Saya sendiri agak lupa kapan pertama kali mendengar Mashabi. Tetapi begitu mendengar Renungkanlah atau Kesunyian Jiwa –dua lagunya yang mirip mantra di kalangan penggemarnya– saya akan menyebut kampung ibu saya di kawasan Ampel, Surabaya.

Di masa kanak-kanak, di tahun 1970-an akhir dan awal 1980-an, telinga saya telah mengenal secara samar-samar suara Mashabi melalui alat pengeras suara yang diputar kencang di acara resepsi pernikahan keluarga ibu.

Tentu saja, ketika itu saya tidak ada minat sama-sekali untuk tahu lebih lanjut tentang sosok pelantun lagu-lagu itu. Intinya, saya sama-sekali tak tertarik. Titik.

Namun demikian, kira-kira 15 tahun kemudian, ceritanya menjadi lain. Ketika sudah mengenal rasanya jatuh cinta (dan ditolak), saya 'dipaksa' untuk mendengarkan berulang-ulang lagu-lagu melankolis Mashabi.

Seorang sahabat, yang rupanya sedang patah hati, begitu menghayati beberapa lagu Mashabi –yang kala itu kusebut lebih mirip ratapan. Alhasil, dalam perjalanan dari Malang ke Bali bersama sobat itu, saya pun ikut-ikutan mengrakabinya.

Rekomendasi Untuk Anda

Tetapi mengapa lagu-lagu Mashabi dapat begitu menghipnotis sobat saya itu? Bagaimana sejarah lahirnya lagu-lagunya? Dan mengapa pria kelahiran 1930-an itu mati muda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seperti terus memanggil. Dan, setelah hampir 20 tahun menjadi jurnalis, saya akhirnya memenuhi panggilan itu.

Kebon Kacang Enam

Awal Maret lalu, saya menghidupkan lagi rasa ingin tahu saya tentang sosok legendaris itu dengan mencoba mencari tempat tinggalnya dulu.

"Cobalah susuri Jalan Kebon Kacang 6, Tanah Abang, semua orang pasti tahu di mana rumah keluarga Mashabi," ujar seorang teman -yang sepertinya akrab dengan lagu-lagu Mashabi.

Patut diketahui, sekian tahun lalu, teman saya ini pula yang menawari saya untuk meliput sang legendaris Mashabi, tetapi kemudian ide ini menguap dan akhirnya terlupakan.

Tetapi, pada hari-hari itu, tekad saya sudah membara. Saya kemudian membuka peta Jakarta dan bertanya ihwal jalan itu kepada teman sekantor yang tinggal di Kebon Kacang. "Kayaknya jalan-jalan Kebon Kacang yang angkanya kecil itu di dekat jalan raya Kyai mas Mansyur."

Info tambahan dari seorang penggila musik Melayu, Geiz Chalifah, yang menyebut 'adik-adik Mashabi' masih tinggal di Kebon Kacang Enam pun makin membulatkan tekad saya.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas