Mashabi, sang peratap dari Tanah Abang
Sebelum Rhoma Irama 'melahirkan' dangdut, Mashabi dan generasinya meramaikan kancah musik melayu pada 1950-1960 dengan gaya modern, yaitu bakal musik dangdut.
Sebuah rumah yang dihiasi tanaman gantung, selain jemuran, dan bangunan keci di depannya, serta sebuah papan bertuliskan 'Rumah Dijual' ditempel di pagar depannya yang mulai berkarat.
Di kanan-kirinya berdiri losmen atau hotel kecil serta lebih dari satu perusahaan pengiriman barang -sebuah ciri khas yang banyak dijumpai di kawasan di dekat pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang.
"Iya betul." Suara perempuan memantul dari balik barang-barang di sebuah bangunan kecil yang disulap menjadi toko kelontong. Saya lega mendengarnya: saya akhirnya menemukan rumah sang legenda!
Meninggal di usia muda
Meninggal dunia di usia 37 tahun, yaitu antara tahun 1963 atau 1967, Mashabi meninggalkan tujuh adik, dan empat diantaranya adalah perempuan, yang masih tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Saya bertemu Rugaiyah, Sakinah, Bahijah dan Aminah -sebagian adik-adik Mashabi- di teras rumahnya, ketika langit Jakarta perlahan berubah menjadi biru bercampur lembayung di ujung baratnya.
"Saya paling dekat dengan kakak saya..." kata Rugaiyah, kini 70 tahun, yang beberapa kali saya pergoki terlihat matanya berkaca-kaca tatkala dia mengenang kembali kakaknya. Dia menunjukkan pula potret hitam putih sang kakak -yang sepertinya tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.
Muhammad Mashabi adalah anak kedua dari 14 bersaudara. Mamad, begitulah panggilannya, adalah anak pasangan Salim Mashabi dan Salamah Mashabi. "Ayah saya dulu juga pemusik dari orkes melayu Al Wardah..."
Dalam wawancara sekitar satu jam, Bahijah dan Sakinah terkadang ikut nimbrung, tetapi dari cerita Rugaiyah, sosok Mashabi seolah seperti hidup kembali.
"Mashabi itu baik sekali. Makanya di waktu dia meninggal, tiga bulan ibu saya enggak belanja. Yang kasih terigu, minyak, karangan bunga, banyak sekali. Di sini (dia menunjuk halaman rumahnya) penuh."
Lagu Ratapan anak tiri
Keluhan anak tiri adalah salah-satu lagu terkenal karya Mashabi dan kelak lagu ini meledak setelah dijadikan musik latar film Ratapan anak tiri yang kali pertama diputar pada tahun 1973.
Di hadapan saya, Rugaiyah -dengan logat Betawi yang kental- bercerita latar belakang lahirnya lagu legendaris tersebut. Sebuah kenyataan yang barangkali bisa menjadi petunjuk sifat perasa sang biduan.
Suatu saat, "dia pergi ke Lampung, dan lihat ada orang dan anaknya, yang (anaknya) terus dimarah-marahin. Dia paranin (datangi); 'kenapa kok dimarahin', ternyata itu anak tiri."
Rupanya pengalaman menyaksikan kepedihan ini terus membebani Mashabi. "Dia pulang, dia kemudian mengarang (menulis lagu). Cepat ngarangnya!"
Ujungnya, pria kelahiran tahun 1930-an itu, menggelar latihan bersama teman-temannya di rumah tersebut. "Dan, kalau pas latihan, saya dikasih duit gede dan disuruh beli kelapa, beli ini, beli ini, bikin nasi uduk.." Mata Rugaiyah kali ini berbinar.