Mashabi, sang peratap dari Tanah Abang
Sebelum Rhoma Irama 'melahirkan' dangdut, Mashabi dan generasinya meramaikan kancah musik melayu pada 1950-1960 dengan gaya modern, yaitu bakal musik dangdut.
"Dia mempunyai hati yang sensitif sekali. Lihat anak kecil saja bisa menangis," kata pria yang kini berusia 58 tahun ini.
Abubakar kemudian teringat bahwa kakaknya sebagai tipe orang, "Yang tidak bisa menerima jika ada temannya susah". Tipe seorang seniman, tambahnya.
"Saya tahu, dia habis main panggilan orkes, dan dapat uang, tapi besoknya sudah tidak punya uang. Saya dengar ceritanya, setiap dia punya uang, temannya berkumpul, dan dia tidak bisa menolak," ungkapnya.
Menjiwai lagu-lagunya
Bergabung bersama orkes Melayu Kelana Ria pada akhir 1950-an, pria kelahiran Jakarta itu seperti menemukan rumahnya yang baru.
Bersama grup musik ini, Mashabi produktif melahirkan karya-karya lagu emasnya, kata salah-seorang sahabatnya, Munif Bahasuan.
"Dia senang sekali bergabung dengan kita, karena saya selalu memberikan kebebasannya untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagunya," kata Munis.
Bersama Mashabi, grup orkes melayu itu kemudian melakukan beberapa rekaman musik dan tampil di berbagai panggung.
Di sini, selain sosok Mashabi dan Munif Bahasuan, ada nama-nama seperti Husein Bawafie, Adi Karso, Lutfi Mashabi, atau Ellya Khadam, yang kelak oleh generasi berikutnya ditahbiskan ikut berperan besar mengenalkan gaya musik melayu modern.
Malam itu, saya beruntung bisa bertemu dan mewawancarai Munif Bahasuan, kini berusia 80 tahun, pencipta dan pelantun lagu Bunga Nirwana yang menjadi hits di zamannya.
Saya temui di kediamannya di kawasan Petojo, Jakarta Barat, Munif -sahabat Mashabi sekaligus pemimpin grup musik Kelana Ria- mengatakan, Mashabi adalah tipe penyanyi yang selalu menjiwai lagu-lagunya.
"Saya rasa belum ada penyanyi dangdut yang punya penjiwaan seperti dia. Dia selalu menyanyi dengan sepenuh hati," ungkap Munif.
Sebagai pencipta lagu, demikian Munif, Mashabi memiliki kemampuan lebih dalam menyusun 'karakter melodinya yang memang betul-betul indah'.
Dalam karya-karya lagunya, dia menyebut Mashabi tidak pernah menjiplak dan tidak pernah meniru lagu-lagu yang sudah ada.
"Dia menciptakan dari perasaan dan jiwa," tandas Munif.
Mengapa melankolis?