Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Mashabi, sang peratap dari Tanah Abang

Sebelum Rhoma Irama 'melahirkan' dangdut, Mashabi dan generasinya meramaikan kancah musik melayu pada 1950-1960 dengan gaya modern, yaitu bakal musik dangdut.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Saya teringat sahabat saya di masa mahasiswa, yang berulang-ulang memutar dua atau tiga lagu Mashabi, ketika dirinya patah hati. Saat itu, dalam perjalanan dari Malang ke Bali, lagu-lagu seputar itu selalu diputar dalam alat rekam miliknya.

Dan ternyata ini bukan asumsi saya semata. Pemusik asal Surabaya dan pengelola situs Arabische Kamp, Adil Albatati, mengatakan, sebagian besar lagu-lagunya dipenuhi lirik bertema cinta.

"Kayak orang merana, merintih, kenapa dunia ini kejam sekali. Kayak begitulah. Melankoli, bluesy," ungkap personil grup band Hi Mom! asal Surabaya dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi mendengarkan lagu-lagu Mashabi.

Adapun pengamat musik melayu, Geisz Chalifah mengatakan, sebagian lagunya memang bertema cinta yang pedih. Dia menduga lagu-lagu Mashabi yang bertema cinta tidak terlepas dari pengalaman pribadi Mashabi.

"Lagu-lagu Melayu itu personal. Nah, kehidupan pribadinya itu diekspresikan lewat lagu. Jadi apa yang dialami, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dia ekspresikan dalam lagu," kata Geiz yang tiap tahun menggelar Jakarta Melayu Festival.

Kisah nyata Mashabi 'patah hati'

Tetapi, benarkah sebagian besar lagu-lagu karya Mashabi -terutama yang bertema cinta- didasarkan kisah nyata dirinya sendiri?

Adik bungsu Mashabi, Abubakar membenarkannya. "Betul sekali, karena saya mendengar beliau patah hati," ungkapnya pelan saat saya hubungi Jumat (11/03) sore melalui sambungan telepon.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika itu ada seorang perempuan yang begitu dicintai oleh Mashabi, tetapi semuanya menjadi berantakan karena orang tua si perempuan menolak kehadirannya -karena alasan soal klaim strata sosial.

"Keluarganya menolak dengan keras, dan sempat mendatangi ibu saya, sehingga ibu saya sampai syok," ungkap Abu terus terang.

Ketika itu ada seorang perempuan yang begitu dicintai oleh Mashabi, tetapi semuanya menjadi berantakan karena orang tua si perempuan menolak kehadirannya - karena alasan soal klaim strata sosial.

Alih-alih melawan, pria yang perasa itu menuruti nasihat orangnya. Walaupun berat hati, dia kemudian memutuskan percintaannya dengan sang kekasih. "Dan dia putus cinta," tambahnya.

Ketika saya tanya lagu apa yang dilatari kisah pedih itu, Abubakar berkata singkat: "Lagu yang tidak direkam dan berjudul Datang surat".

Lagu Untuk bungaku juga disebut Abu dilatari pengalaman pribadi Mashabi ketika melihat langsung pengalaman adik-adik perempuannya.

"Ibu saya, keluarga saya keras, sehingga adik-adik perempuan Mashabi tidak bisa keluar. Kita keluarga yang taat pada orang tua. Kalau tidak boleh keluar, ya tidak keluar," ungkapnya.

Selama masa hidupnya, Mashabi telah menelorkan sekitar 40 lagu, tetapi yang direkam hanya sekitar 12 lagu, kata Abubakar.

Cikal bakal dangdut

Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015) karya (almarhum) Denny Sakrie, musik dangdut disebut merupakan hibrida dari musik Melayu, India dan Arab.

Dan menurutnya, secara umum, kehadiran generasi Mashabi, Munif Bahasuan, Ellya Khadam, A. Kadir, Husein Bawafie dan pemusik melayu lainnya, pada tahun '50-an dan 60-an, sudah menampilkan gaya lagu melayu yang disebutnya sebagai "cikal bakal dangdut".

Munif Bahasuan mengklaim "dangdut itu startnya dari (orkes melayu) Kelana Ria, (karena) saat itu belum ada orang-orang yang merekam lagu-lagu yang warnanya seperti dangdut."

Dia tidak mau menyebut pihaknya disebut sebagai pionir musik dangdut, tetapi, "Pada saat itu, gaya musik yang kita persembahkan saat itu nggak bisa dibilang Melayu asli, tetapi juga enggak bisa dibilang dangdut."

"Dia punya warna sendiri, tapi karena ada Ellya Khadam di sana, jadi ada bau dangdutnya. Ellya 'kan menyanyi Boneka dari India, Termenung. Itu 'kan asalnya lagu India," ungkap Munif kepasa saya.

Meninggalkan melayu asli

Selama ini sudah ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa Rhoma Irama sebagai orang yang melakukan revolusi terhadap musik melayu dengan menciptakan dangdut.

Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014) menyebut Rhoma Irama "mengatur strategi agar dangdut equal dengan rock... Dia mengatur strategi untuk mengakomodasikan dangdut dengan realitas musik pada zamannya." kata Moh. Shofan.

Sebelum musisi Rhoma Irama "melahirkan" dangdut, Mashabi dan generasinya telah meramaikan kancah musik melayu modern pada 1950-1960 – yang kelak disebut cikal bakal musik dangdut.

Adapun laporan Majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia, Juli 2007, Ini dia negeri dangdut menyebutkan pada tahun 1950, lagu Kudaku lari dianggap cikal bakal musik dangdut.

Dan pada dekade 1960-an, musik melayu menjadi bercampur musik lain, dengan pengaruh musik India, Melayu Deli dan gambus, kata National Geographic.

Saya hubungi secara terpisah, pengamat musik melayu, Geisz Chalifah, yang mengatakan kehadiran Mashabi dkk melakukan perubahan dari melayu yang asli menjadi melayu yang lebih modernis.

"Dengan mengambil formulasi dari musik India, tetapi akar melayunya tidak tertinggal," kata Geisz.

Dan lebih dari itu, menurutnya, Mashabi dan penyanyi seangkatannnya telah menjadikan musik melayu menjadi kegemaran masyarakat.

"Kalau semula musik melayu itu musik etnis yang hanya dikenal di Medan dan Riau, mereka menjadikan musik melayu menjadi masyarakat Indonesia."

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas