Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Presiden AS Donald Trump Pecat Kepala Intelijen yang Terlibat Pemakzulan

Presiden AS Donald Trump pecat seorang pejabat senior yang pertama kali memperingatkan Kongres atas pengaduan yang mengarah ke pengadilan impeachment.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Presiden AS Donald Trump Pecat Kepala Intelijen yang Terlibat Pemakzulan
JIM WATSON / AFP
Dikelilingi oleh anggota Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump berbicara pada konferensi pers tentang virus corona atau COVID-19, di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, 13 Maret 2020. Trump menyatakan virus corona sebagai darurat nasional. 

Demokrat bereaksi marah terhadap langkah tersebut.

Terkait hal itu Senator Mark Warner, Demokrat paling senior di Komite Intelijen Senat buka suara.

"Di tengah keadaan darurat nasional, sangat tidak masuk akal bahwa presiden sekali lagi berusaha untuk merusak integritas badan intelijen dengan memecat pejabat intelijen lain hanya karena melakukan pekerjaannya," katanya.

Baca: Presiden AS Donald Trump Menolak Saran CDC Pakai Masker: Kurasa Aku Tidak Akan Melakukannya

Anggota Kongres Adam Schiff, yang mengetuai sidang pemakzulan DPR juga memberikan komentar.

"Keputusan Presiden membuat negara dan keamanan nasional kita berada pada risiko yang lebih besar," ungkapnya.

"Keputusan Presiden Trump untuk memecat Inspektur Badan Intelijen Jenderal Michael Atkinson adalah upaya terang-terangan lain oleh presiden untuk membasmi kemerdekaan Badan Intelijen dan membalas terhadap mereka yang berani mengungkap kesalahan presiden," katanya.

Lebih jauh, bulan lalu Presiden Trump menggantikan kepala staf penjabatnya, Mick Mulvaney , yang dianggap telah melibatkan presiden dalam penyelidikan impeachment dengan pernyataan tidak jelas di podium Gedung Putih.

Rekomendasi Untuk Anda

Trump baru-baru ini mendapat kecaman karena penanganan wabah virus corona di AS yang sejauh ini telah merenggut lebih dari 8.000 jiwa.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas