Obat Malaria Hydroxychloroquine Justru Menimbulkan Risiko Kematian Lebih Tinggi
Di antara pasien yang diberi hydroxychloroquine, 32,3 persen akhirnya membutuhkan ventilator atau menjadi kritis.
Penulis: Febby Mahendra
Editor: Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Obat malaria, hydroxychloroquine yang berulang kali dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai perubahan penting dalam perang melawan virus corona baru, kembali gagal menunjukkan manfaatnya pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Kesimpulan itu dihasilkan dari sebuah penelitian yang diluncurkan pada Kamis (7/5/2020).
Sekalipun penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine itu memiliki sejumlah keterbatasan tertentu, para dokter melaporkan penggunaan hydroxychloroquine tidak mengurangi kebutuhan pasien atas bantuan pernapasan atau menurunkan risiko kematian.
"Kami tidak melihat adanya hubungan antara menggunakan obat ini dan peluang kematian atau intubasi. Para pasien yang mendapatkan obat ini tampaknya tidak menjadi lebih baik," kata ketua peneliti Dr Neil Schluger.
Di antara pasien yang diberi hydroxychloroquine, 32,3 persen akhirnya membutuhkan ventilator atau menjadi kritis, dibandingkan dengan 14,9 persen pasien yang tidak memperoleh obat itu.
Tetapi, dokter lebih mungkin meresepkan hydroxychloroquine kepada pasien yang sakit parah, sehingga para peneliti di New York-Presbyterian Hospital dan Columbia University Irving Medical Center menyesuaikan hasil penelitian itu dengan fakta tersebut.
Mereka menyimpulkan obat itu mungkin tidak memperparah pasien, tetapi jelas tidak membantu.
Hydrocxychloroquine, yang juga digunakan untuk mengobati lupus dan radang sendi, juga tidak menunjukkan manfaat bila dikombinasikan dengan antibiotik azithromycin, menurut laporan tim Schluger.
Baca: Ardi Idrus Jalankan Program Latihan Persib Bandung Setiap Sore Hari Jelang Berbuka Puasa
Azithromycin juga tidak menunjukkan manfaat.
Bulan lalu, dokter di Departemen Urusan Veteran AS melaporkan hydroxychloroquine tidak membantu pasien Covid-19 dan mungkin menimbulkan risiko kematian lebih tinggi.
Analisis catatan medis menunjukkan tingkat kematian 28 persen ketika obat diberikan sebagai tambahan perawatan standar, dibandingkan dengan 11 persen perawatan standar saja.
Dalam penelitian terbaru itu, 811 pasien mendapat hydroxychloroquine dan 565 tidak.
Karena mereka tidak secara acak menerima hydroxychloroquine atau plasebo, menurut para peneliti, penelitian tidak boleh digunakan untuk mengesampingkan baik manfaat maupun bahaya dari obat.
Ditambahkan, percobaan acak, standar utama untuk tes terapi baru, harus dilanjutkan.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.